Monday, October 31, 2011

Panggil Aku........

Katanya berhaji itu panggilan Allah
bukan sekedar kemampuan dana dan fisik semata
kuberharap, semoga aku lulus audisiMu Ya Allah

disegerakan memenuhi panggilan ke rumahMu
seiring perjalanan waktu
aku punya segudang rindu untuk itu
Labbaik Allahumma Labbaik....

Ada hujung ibadah haji yang ingin kugapai
mungkin sulit dan tidak banyak yang memperolehnya
betapa luarbiasanya  seorang 'haji mabrur'
bukan titel H atau Hajjah yang nampak 'keren' di mata manusia
tapi hati nan indah di penilaianNya
menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat

Kadang berharap setiap kubangun dari sujud
terbentang indah Ka'bah di pandanganku
turut hanyut dalam arus jutaan umatMu
tersungkur dengan segala kelemahan manusia

Allah, Ya Rahman Ya Rahim
aku ada dalam genggamanMu
Kau Maha Mengerti apa yang kumau
Kau Maha Tahu segala kekuranganku
niatku, hatiku, inginku, tergores dalam angan-angan
yah, baru sebatas itu kemampuanku
hanya Engkau Yang Maha Kuasa menjadikannya nyata

(saat sedih melihat keberangkatan  orang berhaji, Dzulhijjah 1432 Hijriyah)

Thursday, October 27, 2011

Petir

Beberapa hari ini, setiap sore, hujan turun. Setelah sekian lama kemarau dan dampak kekeringan air, semestinya bersyukur dengan datangnya musim hujan. Namun tulisan ini terilhami kejadian, setiap mau turun hujan, awan tebal, gelap, banyak menggumpal-gumpal. Belum ada tetes hujan, tetapi selanjutnya adalah kilatan petir dan guntur bersahut-sahutan. Mengerikan mendengarnya. Yang kulakukan segera biasanya adalah mencabut stop kontak terutama TV dan komputer, dan sambungan telepon rumah. Semuanya beralasan, karena kami pernah mengalami kerusakan akibat petir ini. Korbannya adalah rusaknya pesawat telepon, modem komputer, hingga TV yang umurnya masih relatip baru. Tak berfungsinya telepon rumah tidak terlalu mengganggu aktivitas, toh masih bisa mengandalkan telepon seluler, tapi modem yang rusak... ..oohh...sebulan tidak bisa internetan (maklum customer speedy), sedangkan TV yang rusak.. hehe..keluarin lagi deh TV jadul yang tetap setia (14 inch).

Melihat petir yang menyambar seperti lampu blitz kamera itu,memang mengerikan. Bahkan yang mengakibatkan modem hangus beberapa waktu lalu, aku melihat sendiri kilatan besar menukik di komplek perumahan kami. Sepertinya si petir menyambar tiang listrik terdekat.

Anakku bertanya, apakah petir itu larinya ke tanah, Ma? Hmmm, kayaknya begitu ya... Baiklah, demi memenuhi keingintahuan kita cari di Guru Google saja lah. Mungkin ini bisa sedikit menjelaskan 
"Petir merupakan muatan listrik bisa positif maupun negatif yang sangat besar, dan tanah bisa menetralkan alirannya. Dimana bumi tidak akan bertambah atau berkurang muatan listriknya untuk kejadian ini"

Selain guntur dan petir, gejala hujan adalah angin kencang. Beberapa hari belakangan ini disuguhi berita pohon-pohon tumbang karena angin kencang. Pohon yang tumbang adalah pohon-pohon besar (mungkin sudah uzur ya), sehingga menghalangi jalan atau bisa menimpa kendaraan yang sedang diparkir di bawahnya. Meski tidak sebesar kejadian tersebut, beberapa hari yang lalu, ada juga pohon tumbang di halaman rumahku. Persisnya pohon tetangga tapi jatuh ke halaman rumah kami karena angin kencang. Hanya pohon pepaya, tapi sedang lebat-lebatnya berbuah dan masih muda-muda pula buahnya.

Apakah angin kencang dan petir merupakan salah satu azab Allah kepada manusia? Wallahualam.


Gambar dari Google Image
Doa ketika mendengar petir :

Allaahumma laa taqtulnaa bighadhabika wa laa tuhliknaa bi'adzaabika wa 'aafinaa qabla dzaalik

Ya Allah, janganlah Engkau membunuh kami karena murkaMu dan janganlah Engkau menghancurkan kami dengan azabMu, maafkanlah kami sebelum hal itu terjadi.

Otan-ku

Otan itu oven tangkring ... ^--^ ini jgua tahu karena 'pergaulan' di dunia maya. Kalau di tempatku sih biasanya disebut oven kompor, maksudnya oven yang diletakkan di atas kompor. Kenapa pilih otan, karena harganya lebih terjangkau. Maunya sih punya oven gas atau oven listrik sekalian, ini biar berada di list harapan dulu karena kendala dana belum mencukupi..hehe.

Otanku umurnya sekitar 7 tahunan, dulu beli karena kepingin bikin kue-kue demi memenuhi selera camilan anak-anak. Dulu belinya tidak pake referensi sama sekali, pokoknya asal jalan saja ke pasar, lihat-lihat dan suami meng-oke-kan, beres. Kalau sekarang sih sudah disimpan rapi tuh berbagai referansi jenis oven yang bagus plus kisaran harganya. Ya Allah mudahkan rezeki kami.

Rumah relatip kecil (RSS = Rumah Seadanya Segitu-gitunya luasnya...), jadi waktu itu setiap habis pakai si otan kutaruh di bawah meja kompor di dapur. Nah, ruang dapur cuma nyempil sedikit dan nyambung dengan ruang keluarga. Anak kecil-kecil, suka main tendangan-tendangan bola atau sejenisnya. Braakkk... kena deh itu pintu kaca oven sekali waktu mereka bermain. Wah, sudah sekitar lima tahun yang lalu kaca itu pecah, masih orisinil keretakannya..hihi. Tapi tetep dengan setia kupakai untuk latihan praktek resep-resep yang beredar di internet.

Semakin hari, dengan bertambahnya ilmu per-baking-an, ternyata ovenku ini kurang memuaskan. Aku sangat merindukan panas atas yang lebih dari yang selama ini. Iya, keseringan bagian bawah kue gosong duluan sementara bagian atasnya masih mentah. Kalau bikin cake sih cuma perlu satu rak, jadi di rak bawah ditaruh loyang isi air untuk mengatasinya. Tapi kalau bikin kue kering atau roti, kan jumlahnya cukup banyak, karena ovenku mini jadi sekali masuk dua loyang ukurna 30 cm x 30 cm, keseringan gosong duluan bawahnya. Kalau apinya dikecilkan, jadi lebih lamaaaa... matangnya dibanding waktu yang seharusnya, belum tentu memuaskan pula hasilnya. Pingin bikin roti dengan topping yang krepek-krepek begitu (garing)...kapan ya ?

lihat retak di kaca otanku

gampang dan enak, brownies





Suatu saat nanti mungkin engkau akan masuk museum, my otan. Tapi tak pernah kulupa jasamu selama bertahun-tahun menemani eksperimen dapurku, dan mengeratkan hubungan dengan anak-anakku ketika mereka menyukai hasil pangganganmu.

Wednesday, October 26, 2011

Gosip.....

Manusia suka melihat aib orang lain, rame-rame lagi. Coba lihat, banyaknya tayangan infotainment di berbagai channel, padahal isinya kurang lebih sama. Tentang selebritis si A, si B, si C, dsb. Dengan berbagai kata pengantar, bumbu penyedap agar penonton semakin 'panas' menunggu beritanya. Selesai jadi 'berita' di infotainment, diskusi bisa berlanjut di area lain, pertemuan ibu-ibu sampai di jejaring sosial. Lihat yang membicarakan adalah mulut-mulut kita, lisan-lisan kita. Mudahnya lidah bersilat menghambur kata. Bukankah telah diingatkan bahwa menggunjing orang lain itu seperti memakan daging saudara sendiri yang sudah mati?

Sungguh alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aibnya sendiri daripada sibuk mengurusi aib oran lain (Hadits). Mungkin kita perlu alat optik khusus karena kuman di seberang lautan kok bisa terlihat, sementara benda sebesar gajah dipelupuk mata tidak terlihat.

Astaghfirullah hal adzim, ampuni lisan hamba yang sudah turut meramaikan area ghibah saudara sendiri, ampuni mata hamba yang sudah ikut menyorot aib saudara sendiri. Di sinilah berlaku bahwa diam itu emas, ya lebih baik diam daripada turt menggoreskan dosa-dosa kecil. Alangkah ngerinya sekiranya dosa itu berbau, tak ada yang mau mendekati kita. Sungguh Allah Maha Baik, yang senantiasa menutup aib kita bahkan di depan orang-orang yang memuji-muji kita.

Kita mungkin tidak lebih baik dari orang yang dihina. Alat timbang kita suka error karena lebih cenderung mengingat kebaikan-kebaikan kita, lupa menghisab dosa-dosa kita. Perbaiki timbangan diri sendiri dahulu, tidak perlu menakar-nakar keburukan orang lain (notes to myself).

Hampa (Lagi)

saat ada ide menyapa
mengapa pada ujung-ujung malam
pada saat mengantuk menyerang

dan di siang hari
bagiku ada waktu luang
ide pergi tanpa pamit
inspirasi lenyap tanpa menggamit

mungkin ini berarti
saatnya beringsut dari depan kompi...........^-^

Tuesday, October 25, 2011

Adzan

Di suatu sore Sabtu, kupanggil tukang sol sepatu. Ada banyak pasang sepatu/sandal anakku yang harus dijahit atau dilem karena terbuka/robek. Tak sampai lima menit kemudian, berkumandang suara adzan ashar. Tukang sol berkata, Bu saya permisi mau sholat dulu. Terus terang saya kaget tapi tetap mengijinkannya. Seorang tukang sol sepatu, yang entah rumahnya dimana, dengan kendaraan sepeda dan kebetulan lewat di komplek saya, minta ijin untuk menjalankan ibadah sholat dulu. Dia tinggalkan peralatan tukanngnya di teras kemudian mengayuh sepedanya mencari mesjid atau mushola terdekat. Kebetulan di komplekku belum ada mesjid (ah, developer mana janjimu...?). Mesjid terdekat, boleh dibilang cukup jauh juga kalau ditempuh dengan jalan kaki.

Dari siapapun kita bisa belajar dan memetik hikmah. Ingat pada saat di kantor, seperti kata seorang teman maya saya. Kumandang adzan itu seperti timer untuk peralihan aktivitas, jadi bukan panggilan sholatnya yang utama, Adzan shubuh untuk bangun pagi, adzan zuhur saatnya break makan siang, adzan ashar waktu untuk mengendurkan aktivitas kerja, adzan maghrib saat makan malam, adzan isha waktunya bobo........... Astaghfirullah, saya termasuk jamaah yang seperti itu kiranya.

Pintar yang Sesungguhnya

jadilah orang pintar
tanpa mengharap gelar 'kamu orang pintar'
karena orang pintar mengerti
arti pintar sesungguhnya hanyalah setelah mati
ketika Sang Maha Pintar mengadili
berapa banyak bekal amal selama hidup di dunia ini......

'orang pintar/cerdas adalah orang yang banyak mengingat mati'