Friday, November 4, 2011

Aku dan Teman FB

Awalnya aku buka akun facebook karena stress... (hmmm, setelah tahu ternyata orang stress itu tanda orangtidak beriman ya...astaghfirullah). Stress pada saat anakku harus dioperasi atas tumor jinak yang ada padanya. Operasi tergolong operasi besar karena dilakukan di bagian dalam kepala (aku akan cerita di lain posting). Dari dulu aku suka internetan dengan blog walking dari satu blog ke blog lain, atau mencari informasi/berita dari berbagai situs. tapi tidak tertarik untuk punya akun FB. Sehingga kesedihan mendalam atas peristiwa anakku, terlintas pikiran alangkah nikmatnya bisa berbagi cerita dengan teman-teman. Iseng-iseng sekitar Juli-Agustus tahun 2009, kubuka juga akun FB. Pertama yang diadd sebagai teman pastilah teman-teman lama. Ketemu satu teman kuliah yang membuat grup alumni seangkatan dahulu, dari dia pertambahan teman cukup cepat. Nyantolah di list pertemanan satu-persatu mulai teman TKsampai teman seangkatan kerja. Tapi tidak semua aktif menulis di FB, sementara aku senang membaca tulisan orang. Mulailah searching nama-nama pengarang buku-buku yang kumiliki, alhamdulillah akhirnya bisa berteman dengan para penulis buku.

Diri kita bisa dilihat dari siapa teman-teman kita. Sebagian besar teman-teman FBku adalah penulis, penyampai dakwah, penggiat bidang pendidikan, beberapa pakar motivasi dan teknologi. Dari mereka berandaku relatip ramai setiap hari. Sementara dari teman-teman lama, ibaratnya cuma terlihat di list pertemanan, jarang yang benar-benarmenulis hal bermanfaat, mungkin karena kesibukan kerja mereka. Nah, dari jumlah yang relatip tidak banyak pertemananku tersebut, lebih dari separuhnya adalah teman-teman baru yang kukenal di dunia maya. Terhadap teman lama saja kadang-kadang kita sudah sedikit 'asing' dengan bagaimana dia sekarang, apalagi dengan teman-teman yang relatip baru kenal di FB. Dalam rangka mengenal biasanya aku jalan-jalan ke akun ybs, membaca status-statusnya, membaca komentar-komentarnya, melihat foto-foto yang diuploadnya. Bukankah 'statusmu menunjukkan dirimu' ?

Kadang-kadang terkaget-kaget sendiri, ternyata ada beberapa di antara mereka agak temperamental. Di balik kebijakan status seseorang, ada saja celah menunjukkan sifat aslinya. Biasanya adalah menjelek-jelekkan orang lain, baik di status maupun komentar. Susah memang mengatur pemikiran lebih dalam sebelum menulis sesuatu di dinding FB. Maksudku, hampir jarang kita terpikir, siapa-siapa sih yang akan membaca status atau komentar ini, apalagi yang temannya banyak pasti tidak mikir sejauh itu, menyangka semua yang ada di list pertemanan adalah seirama dengan kita. Bijaklah saran seseorang seperti ini, sebelum menulis pikirkanlah apa manfaat yang saya tulis ini bagi yang membacanya. Wall FB bukan dinding ratapan dan caci maki. Bukan diriku lebih baik dari yang lain, hal ini lebih untuk teguran pada diriku sendiri. Baguskanlah ucapan/tulisan kita di arena perFBan, semoga tidak sampai menyakitkan pihak lain.

Lidah tak bertulang, lidah bisa lebih tajam daripada pedang. Ucapan/tulisan kuibaratkan petir dan geledek. Petir sudah menyambar sementara suara gunturnya belakangan. Kata-kata sudah terucapkan/tertuliskan sementara pemikiran masih di belakang. Jejaring sosial FB ternyata tidak hanya bisa menciptakan teman-teman baru tetapi juga musuh-musuh baru, bahkan yang dulunya teman di dunia nyata bisa menjadi musuh di alam maya.

Urusan memilih teman, aku juga melaksanakannya. Untuk kebaikan kita tidak ada salahnya 'kan memilih teman yang bisa menyeret kita kepada kebaikan pula. Kalau ada yang meng-add aku sebagai teman, kulihat dulu 'dindingnya', teman bersamanya (mutual friends), foto-foto di albumnya. Sebenarnya peranku lebih banyak sebagai silent reader, banyak membaca daripada posting status, sehingga aneh juga kalau ada yang mau-maunya meng-add diriku... :) Bagiku berlaku, kualitas lebih baik daripada kuantitas. Sering mikir, berapa banyak teman-temanku yang terlihat tapi tak terjangkau. Maksudnya cuma menggantung di  list pertemanan, tapi tak pernah bersilaturahmi atau bertukar sepatah dua patah kata. Biarlah sifatnya dunia maya, tetapi persahabatan yang baik dan bermanfaat ini bisa saling mempengaruhi ke dunia nyata.

Tuesday, November 1, 2011

Cerita Roti

Apa bedanya roti panggang dan roti goreng, roti dan donat, donat goreng dan donat panggang (baked donut) ? Haha...bagiku adonan sama saja, cuma cara memasak dan variasi isinya beda-beda. Iya nih, punya resep roti andalan yang bisa dipakai untuk donat juga, biar ketemu resep-resep baru, eh.. tetep balik ke resep dasar yang satu ini. Resep ini dari Bu Fatmah Bahalwan dari NCC.

Kalau lagi tidak bikin roti, aku beli roti 'kampung'  yang dijual oleh tukang sayur keliling. Hemmm, rasanya lumayan apalagi makanya dicelup ke tanah panas. Mantap... Nah, kalo lagi weekend,  ada rejeki dan lagi jalan bersama keluarga, baru deh beli roti di toko bakery, dengan harga sepantas kualitasnya.

Yang aku bingung kenapa roti-roti yang dijual itu rata-rata berwarna putih bagian dalamnya, sementara roti buatanku pasti agak kekuningan karena pengaruh warna mentega/margarain dan kuning telur. Apa jenis mentega/butternya beda ya..?

roti yang dibeli dari paman sayur
roti buatanku

Bikin roti itu kesenangan tersendiri. Awal-awal belajar, aku nguleni pakai tangan, capenya ruarr biasa dan makan waktu lebih dari setengah jam. Belakangan ini memberdayakan mixer yang spiral, toh adonannya relatip sedikit, paling banyak seperempat kg terigu, jadi mixernya masih kuanggap mampu nguleni. Rata-rata sampai adonan menjadi kalis perlu waktu 15 - 20 menit. Nah yang lama itu waktu pengembangannya, hampir dua jam biasanya. Yang penting bagiku, cukup puaslah bisa bikin roti sendiri buat konsumsi anak-anak. Salah satu kebahagiaan seorang emak adalah ketika anak-anaknya berkomentar ...'enaakkk..Ma'  :) ...Alhamdulillah

Monday, October 31, 2011

Panggil Aku........

Katanya berhaji itu panggilan Allah
bukan sekedar kemampuan dana dan fisik semata
kuberharap, semoga aku lulus audisiMu Ya Allah

disegerakan memenuhi panggilan ke rumahMu
seiring perjalanan waktu
aku punya segudang rindu untuk itu
Labbaik Allahumma Labbaik....

Ada hujung ibadah haji yang ingin kugapai
mungkin sulit dan tidak banyak yang memperolehnya
betapa luarbiasanya  seorang 'haji mabrur'
bukan titel H atau Hajjah yang nampak 'keren' di mata manusia
tapi hati nan indah di penilaianNya
menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat

Kadang berharap setiap kubangun dari sujud
terbentang indah Ka'bah di pandanganku
turut hanyut dalam arus jutaan umatMu
tersungkur dengan segala kelemahan manusia

Allah, Ya Rahman Ya Rahim
aku ada dalam genggamanMu
Kau Maha Mengerti apa yang kumau
Kau Maha Tahu segala kekuranganku
niatku, hatiku, inginku, tergores dalam angan-angan
yah, baru sebatas itu kemampuanku
hanya Engkau Yang Maha Kuasa menjadikannya nyata

(saat sedih melihat keberangkatan  orang berhaji, Dzulhijjah 1432 Hijriyah)

Thursday, October 27, 2011

Petir

Beberapa hari ini, setiap sore, hujan turun. Setelah sekian lama kemarau dan dampak kekeringan air, semestinya bersyukur dengan datangnya musim hujan. Namun tulisan ini terilhami kejadian, setiap mau turun hujan, awan tebal, gelap, banyak menggumpal-gumpal. Belum ada tetes hujan, tetapi selanjutnya adalah kilatan petir dan guntur bersahut-sahutan. Mengerikan mendengarnya. Yang kulakukan segera biasanya adalah mencabut stop kontak terutama TV dan komputer, dan sambungan telepon rumah. Semuanya beralasan, karena kami pernah mengalami kerusakan akibat petir ini. Korbannya adalah rusaknya pesawat telepon, modem komputer, hingga TV yang umurnya masih relatip baru. Tak berfungsinya telepon rumah tidak terlalu mengganggu aktivitas, toh masih bisa mengandalkan telepon seluler, tapi modem yang rusak... ..oohh...sebulan tidak bisa internetan (maklum customer speedy), sedangkan TV yang rusak.. hehe..keluarin lagi deh TV jadul yang tetap setia (14 inch).

Melihat petir yang menyambar seperti lampu blitz kamera itu,memang mengerikan. Bahkan yang mengakibatkan modem hangus beberapa waktu lalu, aku melihat sendiri kilatan besar menukik di komplek perumahan kami. Sepertinya si petir menyambar tiang listrik terdekat.

Anakku bertanya, apakah petir itu larinya ke tanah, Ma? Hmmm, kayaknya begitu ya... Baiklah, demi memenuhi keingintahuan kita cari di Guru Google saja lah. Mungkin ini bisa sedikit menjelaskan 
"Petir merupakan muatan listrik bisa positif maupun negatif yang sangat besar, dan tanah bisa menetralkan alirannya. Dimana bumi tidak akan bertambah atau berkurang muatan listriknya untuk kejadian ini"

Selain guntur dan petir, gejala hujan adalah angin kencang. Beberapa hari belakangan ini disuguhi berita pohon-pohon tumbang karena angin kencang. Pohon yang tumbang adalah pohon-pohon besar (mungkin sudah uzur ya), sehingga menghalangi jalan atau bisa menimpa kendaraan yang sedang diparkir di bawahnya. Meski tidak sebesar kejadian tersebut, beberapa hari yang lalu, ada juga pohon tumbang di halaman rumahku. Persisnya pohon tetangga tapi jatuh ke halaman rumah kami karena angin kencang. Hanya pohon pepaya, tapi sedang lebat-lebatnya berbuah dan masih muda-muda pula buahnya.

Apakah angin kencang dan petir merupakan salah satu azab Allah kepada manusia? Wallahualam.


Gambar dari Google Image
Doa ketika mendengar petir :

Allaahumma laa taqtulnaa bighadhabika wa laa tuhliknaa bi'adzaabika wa 'aafinaa qabla dzaalik

Ya Allah, janganlah Engkau membunuh kami karena murkaMu dan janganlah Engkau menghancurkan kami dengan azabMu, maafkanlah kami sebelum hal itu terjadi.

Otan-ku

Otan itu oven tangkring ... ^--^ ini jgua tahu karena 'pergaulan' di dunia maya. Kalau di tempatku sih biasanya disebut oven kompor, maksudnya oven yang diletakkan di atas kompor. Kenapa pilih otan, karena harganya lebih terjangkau. Maunya sih punya oven gas atau oven listrik sekalian, ini biar berada di list harapan dulu karena kendala dana belum mencukupi..hehe.

Otanku umurnya sekitar 7 tahunan, dulu beli karena kepingin bikin kue-kue demi memenuhi selera camilan anak-anak. Dulu belinya tidak pake referensi sama sekali, pokoknya asal jalan saja ke pasar, lihat-lihat dan suami meng-oke-kan, beres. Kalau sekarang sih sudah disimpan rapi tuh berbagai referansi jenis oven yang bagus plus kisaran harganya. Ya Allah mudahkan rezeki kami.

Rumah relatip kecil (RSS = Rumah Seadanya Segitu-gitunya luasnya...), jadi waktu itu setiap habis pakai si otan kutaruh di bawah meja kompor di dapur. Nah, ruang dapur cuma nyempil sedikit dan nyambung dengan ruang keluarga. Anak kecil-kecil, suka main tendangan-tendangan bola atau sejenisnya. Braakkk... kena deh itu pintu kaca oven sekali waktu mereka bermain. Wah, sudah sekitar lima tahun yang lalu kaca itu pecah, masih orisinil keretakannya..hihi. Tapi tetep dengan setia kupakai untuk latihan praktek resep-resep yang beredar di internet.

Semakin hari, dengan bertambahnya ilmu per-baking-an, ternyata ovenku ini kurang memuaskan. Aku sangat merindukan panas atas yang lebih dari yang selama ini. Iya, keseringan bagian bawah kue gosong duluan sementara bagian atasnya masih mentah. Kalau bikin cake sih cuma perlu satu rak, jadi di rak bawah ditaruh loyang isi air untuk mengatasinya. Tapi kalau bikin kue kering atau roti, kan jumlahnya cukup banyak, karena ovenku mini jadi sekali masuk dua loyang ukurna 30 cm x 30 cm, keseringan gosong duluan bawahnya. Kalau apinya dikecilkan, jadi lebih lamaaaa... matangnya dibanding waktu yang seharusnya, belum tentu memuaskan pula hasilnya. Pingin bikin roti dengan topping yang krepek-krepek begitu (garing)...kapan ya ?

lihat retak di kaca otanku

gampang dan enak, brownies





Suatu saat nanti mungkin engkau akan masuk museum, my otan. Tapi tak pernah kulupa jasamu selama bertahun-tahun menemani eksperimen dapurku, dan mengeratkan hubungan dengan anak-anakku ketika mereka menyukai hasil pangganganmu.

Wednesday, October 26, 2011

Gosip.....

Manusia suka melihat aib orang lain, rame-rame lagi. Coba lihat, banyaknya tayangan infotainment di berbagai channel, padahal isinya kurang lebih sama. Tentang selebritis si A, si B, si C, dsb. Dengan berbagai kata pengantar, bumbu penyedap agar penonton semakin 'panas' menunggu beritanya. Selesai jadi 'berita' di infotainment, diskusi bisa berlanjut di area lain, pertemuan ibu-ibu sampai di jejaring sosial. Lihat yang membicarakan adalah mulut-mulut kita, lisan-lisan kita. Mudahnya lidah bersilat menghambur kata. Bukankah telah diingatkan bahwa menggunjing orang lain itu seperti memakan daging saudara sendiri yang sudah mati?

Sungguh alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aibnya sendiri daripada sibuk mengurusi aib oran lain (Hadits). Mungkin kita perlu alat optik khusus karena kuman di seberang lautan kok bisa terlihat, sementara benda sebesar gajah dipelupuk mata tidak terlihat.

Astaghfirullah hal adzim, ampuni lisan hamba yang sudah turut meramaikan area ghibah saudara sendiri, ampuni mata hamba yang sudah ikut menyorot aib saudara sendiri. Di sinilah berlaku bahwa diam itu emas, ya lebih baik diam daripada turt menggoreskan dosa-dosa kecil. Alangkah ngerinya sekiranya dosa itu berbau, tak ada yang mau mendekati kita. Sungguh Allah Maha Baik, yang senantiasa menutup aib kita bahkan di depan orang-orang yang memuji-muji kita.

Kita mungkin tidak lebih baik dari orang yang dihina. Alat timbang kita suka error karena lebih cenderung mengingat kebaikan-kebaikan kita, lupa menghisab dosa-dosa kita. Perbaiki timbangan diri sendiri dahulu, tidak perlu menakar-nakar keburukan orang lain (notes to myself).

Hampa (Lagi)

saat ada ide menyapa
mengapa pada ujung-ujung malam
pada saat mengantuk menyerang

dan di siang hari
bagiku ada waktu luang
ide pergi tanpa pamit
inspirasi lenyap tanpa menggamit

mungkin ini berarti
saatnya beringsut dari depan kompi...........^-^