Halo, my blog. So sorry, lama dicuekin, bukan lupa tapi
benar-benar tidak punya waktu khusus nulis yang panjang lebar. Iri bener dengan
ibu-ibu rumah tangga full, tanpa asisten, anak banyak ngurus sendiri, tapi
masih bisa nulis entah di blog, jejaring sosial bahkan bikin buku. Kumaha
carana ? Kudu punya laptop kah yang bisa digendong kemana-mana, sementara di
rumahku cuma ada satu PC yang diam di pojok ruang keluarga dan nggak mungkin
dong diboyong kemana-mana. Setelah anak-anak tidur? Hem... sudah jam sepuluhan
malam, emaknya juga harus istirahat dong
jadi turut bobo ...:) Ya, sudah, ini sekedar say hello bahwa aku masih punya
keinginan nulis lagi, mudah-mudahan dilancarkan bagaimana pun nanti caranya.
Tuesday, September 18, 2012
Thursday, May 3, 2012
Rupa-rupa 2 Mei
Ini rangkumanan kisah hari kemarin, tepatnya Rabu tanggal 2 Mei 2012. Yap, bertepatan dengan hari pendidikan nasional. Setelah sekitar dua minggu tidak pernah membeli bensin di SPBU, horee... eh... Alhamdulillah, kemarin aku berhasil beli bensin di SPBU. Masih antri meski tidak panjang, sudah nampak normal kok, bahkan di jalur mobil hanya terlihat satu mobil sedang mengisi. Di jalur solar, tertera tulisan 'solar ada' ...eh... malah tidak ada antrian truk yang biasanya mengular itu. Selama krisis bensin kemarin, ada instruksi dari Pemda bahwa pembelian bensin untuk motor maksimum Rp.20.000,- ternyata kemarin kuisi full tank hanya sampai Rp.14 ribu ...hihi..., itupun puasnya luar biasa. Sementara di eceran pinggir jalan, masih banyak yang mematok harga Rp.6 ribu, dengan ketepatan volume satu liter per botolnya diragukan.
Di perjalanan ke rumah, aku tertarik membeli gado-gado yang sudah pernah kucoba dan rasanya enak. Masalahnya tukang gado-gado ini mangkalnya di dean rumah orang yang terletak di pinggir jalan umum. Ada sekitar 3 pembeli menunggu tykang gado-gado meracik dagangannya, ketika tiba-tiba sebuah mobil cukup besar (strada triton kalau tidak salah) menepi dan tet..tet..tet..tet... sang sopir memencet klakson bertubi-tubi. Hiks, semua pembeli gado-gado menoleh, di kepala kami kayaknya sama ini orang mau beli gado-gado. Kaca jendela turun pelan-pelan, tampak seorang ibu yang badanya tidak kalah besar dengan mobilnya masih tet..tet...tet... dengan klaksonnya. Penjual gado-gado mendongakkan kepalanya, mengkofirmasi apakah si ibu berniat beli dagangannya. Oh, ternyata tidak, dia mencari sang pemilik rumah, penjual gado-gado pun memanggil yang dimaksud, tapi tidak ada sahutan dari dalam rumah. Sebentar kemudian, terdengar ibu yang di mobil itu menelpon, ke penghuni rumah tentunya, barulah keluar yang punya rumah yang ternyata anaknya. Sang ibu yang dicari tidak ada ternyata. Intinya, kenapa ibu di mobil gede itu tidak turun saja, baik-baik mendatangi rumah yang dituju, jadi ribut-ribut pake klakson menjadi perhatian orang lain. Hemmm.....
Innalillahi wa inna ilaihi roojiun, kemarin ada berita duka yaitu meninggalnya menteri kesehatan non aktip, ibu Endang Rahayu. Selama beberapa bulan memang beliau dalam kondisi sakit karena radang paru-paru, hingga kritis sampai ujung usianya. Tuh kan, orang kesehatan dan dokter pun bisa sakit juga yang kadang-kadang orang awam sepertiku tidak menduga. Tapi ngomong-ngomong, katanya orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan adalah salah satu kelompok yang rentan kena penyakit, apalagi kalau bukan karena seringnya berhubungan dengan penyakit dan kawan-kawannya. Sungguh, kesehatan itu adalah suatu nikmat yang luar biasa. Tiang untuk beraktivitas adalah badan yang sehat.
Apalagi ceritanya ya. Oh ya, sore kemarin laper-laper tergoda bikin kue. Nyobalah resep cake moka. Dari cara bikinnya kayaknya ini termasuk sponge cake deh. Buktinya, telur lebih banyak dari terigu dan butter leleh. Telur dikocok dengan gula terlebih dahulu sampai kental dan mengembang, dan tanpa pake baking powder pula. Jadinya oke bin mantap, lembut kayak spon, ukuran resepnya (meski bikin cuma separuh resep) pas. Bisa dijadikan resep andalan dan dasar berbagi sponge cake lainnya, keju, orange, coklat, sampai blackforest. Besok bikin lagi ah...
Di perjalanan ke rumah, aku tertarik membeli gado-gado yang sudah pernah kucoba dan rasanya enak. Masalahnya tukang gado-gado ini mangkalnya di dean rumah orang yang terletak di pinggir jalan umum. Ada sekitar 3 pembeli menunggu tykang gado-gado meracik dagangannya, ketika tiba-tiba sebuah mobil cukup besar (strada triton kalau tidak salah) menepi dan tet..tet..tet..tet... sang sopir memencet klakson bertubi-tubi. Hiks, semua pembeli gado-gado menoleh, di kepala kami kayaknya sama ini orang mau beli gado-gado. Kaca jendela turun pelan-pelan, tampak seorang ibu yang badanya tidak kalah besar dengan mobilnya masih tet..tet...tet... dengan klaksonnya. Penjual gado-gado mendongakkan kepalanya, mengkofirmasi apakah si ibu berniat beli dagangannya. Oh, ternyata tidak, dia mencari sang pemilik rumah, penjual gado-gado pun memanggil yang dimaksud, tapi tidak ada sahutan dari dalam rumah. Sebentar kemudian, terdengar ibu yang di mobil itu menelpon, ke penghuni rumah tentunya, barulah keluar yang punya rumah yang ternyata anaknya. Sang ibu yang dicari tidak ada ternyata. Intinya, kenapa ibu di mobil gede itu tidak turun saja, baik-baik mendatangi rumah yang dituju, jadi ribut-ribut pake klakson menjadi perhatian orang lain. Hemmm.....
Innalillahi wa inna ilaihi roojiun, kemarin ada berita duka yaitu meninggalnya menteri kesehatan non aktip, ibu Endang Rahayu. Selama beberapa bulan memang beliau dalam kondisi sakit karena radang paru-paru, hingga kritis sampai ujung usianya. Tuh kan, orang kesehatan dan dokter pun bisa sakit juga yang kadang-kadang orang awam sepertiku tidak menduga. Tapi ngomong-ngomong, katanya orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan adalah salah satu kelompok yang rentan kena penyakit, apalagi kalau bukan karena seringnya berhubungan dengan penyakit dan kawan-kawannya. Sungguh, kesehatan itu adalah suatu nikmat yang luar biasa. Tiang untuk beraktivitas adalah badan yang sehat.
Apalagi ceritanya ya. Oh ya, sore kemarin laper-laper tergoda bikin kue. Nyobalah resep cake moka. Dari cara bikinnya kayaknya ini termasuk sponge cake deh. Buktinya, telur lebih banyak dari terigu dan butter leleh. Telur dikocok dengan gula terlebih dahulu sampai kental dan mengembang, dan tanpa pake baking powder pula. Jadinya oke bin mantap, lembut kayak spon, ukuran resepnya (meski bikin cuma separuh resep) pas. Bisa dijadikan resep andalan dan dasar berbagi sponge cake lainnya, keju, orange, coklat, sampai blackforest. Besok bikin lagi ah...
Wednesday, April 25, 2012
Cake Coklat Andalan
Resep ini luar biasa, simpel tapi rasanya mantap. Dari Martha Stewart, cake coklat ini jadi andalan. Setiap bikin cepat habis oleh anak-anak apalagi dibantu teman-teman main mereka ..haha... Percayalah, rasanya lebih ueenaak dari tampangnya..
Cake Coklat (Martha Stewart)
Bahan I
Bahan II
Bahan III
masukkan cairan coklat + kopi, aduk rata. terakhir masukkan campuran terigu dan diaduk rata cukup dengan spatula. tuang ke loyang dan dibakar selama 40 menit.
biasanya setengah perjalanan (20 menit), loyang kuputar supaya panggangannya rata,dan dilanjutkan 20 menit kemudian sampai matang. karena oven tangkring di atas kompor jadi tingkat derajat panasnya berdasarkan pengalaman dan perasaan. ah, aku pingin sekali punya oven meski otan yang lebih bagus dan mantap, insyaAllah
selamat menikmati....
Cake Coklat (Martha Stewart)
Bahan I
- 1/2 cup cacao diayak
- 1/3 cup kopi panas (nescafe yang ada di rumah)
- 1/2 cup susu, suhu ruang
Bahan II
- 1 1/3 cup cake flour (aku pake terigu biasa)
- 1/2 sendok teh baking powder
- 1/4 sendok teh garam
Bahan III
- 3/4 cup unsalted butter (diriku pake margarine)
- 1 1/4 cup gula halus (kalo pake gula biasa kayaknya cukup 1 cup)
- 1/2 sendok makan vanila (aku sering tidak pake karena tidak punya stok)
- 3 butir telur ukuran sedang (di resep asli tertulis 2 large eggs)
masukkan cairan coklat + kopi, aduk rata. terakhir masukkan campuran terigu dan diaduk rata cukup dengan spatula. tuang ke loyang dan dibakar selama 40 menit.
biasanya setengah perjalanan (20 menit), loyang kuputar supaya panggangannya rata,dan dilanjutkan 20 menit kemudian sampai matang. karena oven tangkring di atas kompor jadi tingkat derajat panasnya berdasarkan pengalaman dan perasaan. ah, aku pingin sekali punya oven meski otan yang lebih bagus dan mantap, insyaAllah
selamat menikmati....
Tuesday, April 24, 2012
Masih (Susah Bensin)
Makin hari makin penuh saja antrian di SPBU. Pertanyaannya adalah ada apa ini ? Apakah ini juga terjadi di bagian Indoensia lainnya, atau hanya di Kalsel (mungkin juga Kalteng). Beberapa hari yang lalu aku sudah terkaget-kaget waktu beli bensin eceran mencapai Rp.7.000,- per liter, ehh.. kemarin harganya sudah ada yang menaruh di Rp.8.000,- per liter. Wah...wah... tambah pusing saja. Entah kami termasuk golongan layak subsidi atau tidak, toh mau tidak mau harus membeli dengan harga yang nyaris dua kali lipat itu. Bensin memang kebutuhan pokok, bagiku terutama untuk motor yang tiap hari antar jemput anak sekolah yang berjarak sekitar lima kilometer dari rumah. Jadi mengkhayal seandainya sekolah anak-anak relatip dekat, mereka pulang pergi cukup dengan sepeda. Sehat dan murah. Masalahnya sekarang jarak tempuh cukup jauh dan kalau bersepeda sangat beresiko di jalan raya yang padat dan rawan terjadi apa-apa.
Siapa sih mereka yang rela antri setiap hari di SPBU, berlapis-lapis kendaraan, bermeter-meter panjangnya hingga memakan badan jalan, bahkan sudah penuh antrian sebelum SPBU dibuka (bensin masih kosong). Apa tidak ada kegiatan lain, menunggu berjam-jam di antrian ? Konon, sebagian besar mereka adalah para pelangsir ya... entahlah.
Siapa sih mereka yang rela antri setiap hari di SPBU, berlapis-lapis kendaraan, bermeter-meter panjangnya hingga memakan badan jalan, bahkan sudah penuh antrian sebelum SPBU dibuka (bensin masih kosong). Apa tidak ada kegiatan lain, menunggu berjam-jam di antrian ? Konon, sebagian besar mereka adalah para pelangsir ya... entahlah.
Wednesday, April 18, 2012
Bensin oh bensin....
Setengah bulan April sudah berlalu, dan secara resmi harga bensin memang tidak jadi dinaikkan, artinya tetap Rp.4.500,- per liter Tapi sejak dua minggu terakhir bulan Maret sampai sekarang, artinya kurang lebih sebulan, aku belum pernah lagi beli bensin di SPBU. Entah apa sebabnya, betah amat sampai sebulan ya..., antrian di SPBU di Banjarmasin, tidak menunjukkan tanda-tanda berkurang. Antrian baik mobil apalagi sepeda motor, tetap saja panjang, dan berlapis-lapis. Alhasil, selama ini selalu beli bensin di kios-kios pinggir jalan. Dan hebatnya harganya tidak lagi seperti yang dulu Rp.5.000,- per liter, tetapi sudah Rp.6.000,- atau Rp.6.500,- per liter. Itu di Banjarmasin, konon di daerah Kalteng yang pasokannya dari Kalsel, di eceran sudah mencapai minimal Rp.7.000,-
Juga, harga bahan-bahan pokok, yang menjelang rencana kenaikan BBM dulu sudah naik, sampai sekarang pun enggan turun atau kembali ke harga awal. Duh, beratnya ya... Bawa selembar limapuluh ribuan sehari, seperti bawa seribuan atau duaribuan, langsung habis. Tapi, seharusnya dalam keadaan begini, kita wajib melihat ke bawah. Bagaimana mereka yang berpenghasilan pas-pasan ? Bagaimana mereka memenuhi kebutuhan pokok keluarganya di tengah harga-harga yang kian tinggi ini ? Selayaknya kita masih bisa bersyukur, kalau melihat mereka.
Belum lagi, berita tentang kejahatan geng motor. Aduh, orang-orang itu ya ...., pake sepeda motor (yang pastinya mengkonsumsi bensin), untuk membuat onar dan kejahatan. Itu mungkin yang dikatakan salah seorang teman, bahwa kita boros dengan bensin. Boros karena penggunaan bensin hanya untuk kebut-kebutan (senang-senang) termasuk mobil-mobil pribadi yang isi penumpangnya relatip sedikit. Entahlah, bagiku sebuah kendaraan sepeda motor di rumah ini sangatlah penting, karena digunakan untuk kegiatan sehari-hari antar jemput anak-anakku sekolah dari mereka TK sampai saat ini sudah SMP. Kalau mobil, memang seharusnya Pemerintah mengelola angkutan umum lebih baik lagi sehingga layak dan nyaman digunakan masyarakat, dan akan mengurangi penggunaan mobil pribadi.
Naik sepeda motor itu nikmat, mengutip dari teman di dunia maya, dengan sepeda motor kalau hujan kita tidak kepanasan dan kalau panas tidak kehujanan ... hehe...:) Bagiku, kerekatan keluarga semakian lengket saat naik satu motor satu keluarga ..., kan jadi mepet-mepet supaya muat...:)
Juga, harga bahan-bahan pokok, yang menjelang rencana kenaikan BBM dulu sudah naik, sampai sekarang pun enggan turun atau kembali ke harga awal. Duh, beratnya ya... Bawa selembar limapuluh ribuan sehari, seperti bawa seribuan atau duaribuan, langsung habis. Tapi, seharusnya dalam keadaan begini, kita wajib melihat ke bawah. Bagaimana mereka yang berpenghasilan pas-pasan ? Bagaimana mereka memenuhi kebutuhan pokok keluarganya di tengah harga-harga yang kian tinggi ini ? Selayaknya kita masih bisa bersyukur, kalau melihat mereka.
Belum lagi, berita tentang kejahatan geng motor. Aduh, orang-orang itu ya ...., pake sepeda motor (yang pastinya mengkonsumsi bensin), untuk membuat onar dan kejahatan. Itu mungkin yang dikatakan salah seorang teman, bahwa kita boros dengan bensin. Boros karena penggunaan bensin hanya untuk kebut-kebutan (senang-senang) termasuk mobil-mobil pribadi yang isi penumpangnya relatip sedikit. Entahlah, bagiku sebuah kendaraan sepeda motor di rumah ini sangatlah penting, karena digunakan untuk kegiatan sehari-hari antar jemput anak-anakku sekolah dari mereka TK sampai saat ini sudah SMP. Kalau mobil, memang seharusnya Pemerintah mengelola angkutan umum lebih baik lagi sehingga layak dan nyaman digunakan masyarakat, dan akan mengurangi penggunaan mobil pribadi.
Naik sepeda motor itu nikmat, mengutip dari teman di dunia maya, dengan sepeda motor kalau hujan kita tidak kepanasan dan kalau panas tidak kehujanan ... hehe...:) Bagiku, kerekatan keluarga semakian lengket saat naik satu motor satu keluarga ..., kan jadi mepet-mepet supaya muat...:)
Hai, my blog
Kiat rajin menulis di blog (ala diriku) :
- nyalakan kompi dan langsung buka blog terlebih dahulu (jangan google, fb, twitter, dll yang akan menyita waktu membaca sehingga malas ke blog)
- nyalakan komputer dahulu daripada TV, nanti keasyikan lihat TV malas nge-blog
- sempatkan diri, setiap hari, saat belum sibuk atau sedang santai, membuka blog
- tulis segera yang ada dalam kepala, tentang isi dan tata bahasa bisa diedit kemudian
- biar sedikit tapi ada jejak menulis, tidak perlu panjang lebar
- kalau ada rezeki, miliki smart phone, sehingga bisa ngetik dimana saja ( susah bawa komputer kemana-mana ... )
Tuesday, February 28, 2012
Bahan Pokok
Februati bulan terbasah. Hujan paling sering turun. Tetapi beberapi hari ini, panas terik dengan cuaca yang tidak enak, hujan hanya gerimis. Anak-anak bergantian sakit, sakit umum musim hujan, panas batuk pilek. Termasuk orangtuanya juga ikut sakit. Perlu ekstra vitamin, makan banyak supaya tetap kuat melayani anak-anak.
Banjarmasin, terutama di lingkungan tempat tinggalku juga kurang nyaman akhir-akhir ini. Beberapa kali listrik mati. Dan yang terutama adalah air PDAM yang tidak mengalir, kalaupun mengalir debitnya sangat kecil dan hanya mampu keluar di keran terendah (tidak sampai semeter dari permukaan tanah). Berhari-hari sudah keadaan ini. Yang baru kutemui di sini adalah, biar berlangganan PDAM tapi belakangan ini banyak rumah yang memiliki mesin air, bukan menyedot air tanah tapi 'lomba' menyedot air PDAM yang debitnya kecil tersebut. Awalnya aku juga tidak punya, akibatnya sangat kesulitan air. Tapi kok melihat para tetangga dengan santainya 'membuang-buang' air untuk mencuci mobil segala, ternyata mereka sedot air PDAM itu dengan mesin. Ya sudah, akhirnya suamiku juga menyedikan mesin tersebut. Sejujurnya aku kurang suka harus menyedot terus, pertama kasihan bagi yang tidak punyai mesin, semakin sulit air menetes di rumah mereka karena keburu disedot rumah-rumah lain, kedua kok biayanya jadi dobel ya , ya bayar PDAM juga bayar listrik untuk menyalakan mesin airnya. Di daerah kami tidak memungkinkan menyedot air tanah karena umumnya perumahan di sini berada di atas tanah rawa yang berair (rumah panggung).
Dulu, ketika aku SD atau SMP, dari pelajaran yang kuterima, bahan kebutuhan pokok itu antara lain rumah, pakaian dan bahan makanan pokokk seperti beras dkk. Ternyata saat ini banyak sekali bahan pokok yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Krisis BBM terutama, bensin dan gas, kok jadi masalah cukup memusingkan belakangan ini. Di stasiun pompa bensin, sering terjadi antrian, meski biasanya solar, tapi pada saat-saat tertentu bensin juga sering antri. Satu lagi kebutuhan pokok yaitu gas elpiji. Selama sebulan terakhir kelangkaan gas melanda Banjarmasin. Kami juga kena dampaknya. Harga refill tabung 12 kg pada saat normal adalah Rp.95.000,-- ternyata dengan susah payah kami mendapat gas di jaman 'susah' dikenai harga Rp.130.000,-- Alasannya pasokan dari Balikpapan terhambat, hu ...hu... jadi kepingin ke Balikpapan memborong langsung di sana ... :)
BBM sangat berpengaruh dengan harga-harga barang lainnya. Kenaikan harga BBM dan kelangkaannya, otomatis bisa mendongkrak harga-harga barang lainnya. Duh, bener deh... ibu rumah tangga sebagai manajer keuangan bertambah pusing jadinya. Masak, mau balik pakai kayu bakar lagi, lagian kayu juga semakin susah didapat lho....
Banjarmasin, terutama di lingkungan tempat tinggalku juga kurang nyaman akhir-akhir ini. Beberapa kali listrik mati. Dan yang terutama adalah air PDAM yang tidak mengalir, kalaupun mengalir debitnya sangat kecil dan hanya mampu keluar di keran terendah (tidak sampai semeter dari permukaan tanah). Berhari-hari sudah keadaan ini. Yang baru kutemui di sini adalah, biar berlangganan PDAM tapi belakangan ini banyak rumah yang memiliki mesin air, bukan menyedot air tanah tapi 'lomba' menyedot air PDAM yang debitnya kecil tersebut. Awalnya aku juga tidak punya, akibatnya sangat kesulitan air. Tapi kok melihat para tetangga dengan santainya 'membuang-buang' air untuk mencuci mobil segala, ternyata mereka sedot air PDAM itu dengan mesin. Ya sudah, akhirnya suamiku juga menyedikan mesin tersebut. Sejujurnya aku kurang suka harus menyedot terus, pertama kasihan bagi yang tidak punyai mesin, semakin sulit air menetes di rumah mereka karena keburu disedot rumah-rumah lain, kedua kok biayanya jadi dobel ya , ya bayar PDAM juga bayar listrik untuk menyalakan mesin airnya. Di daerah kami tidak memungkinkan menyedot air tanah karena umumnya perumahan di sini berada di atas tanah rawa yang berair (rumah panggung).
Dulu, ketika aku SD atau SMP, dari pelajaran yang kuterima, bahan kebutuhan pokok itu antara lain rumah, pakaian dan bahan makanan pokokk seperti beras dkk. Ternyata saat ini banyak sekali bahan pokok yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Krisis BBM terutama, bensin dan gas, kok jadi masalah cukup memusingkan belakangan ini. Di stasiun pompa bensin, sering terjadi antrian, meski biasanya solar, tapi pada saat-saat tertentu bensin juga sering antri. Satu lagi kebutuhan pokok yaitu gas elpiji. Selama sebulan terakhir kelangkaan gas melanda Banjarmasin. Kami juga kena dampaknya. Harga refill tabung 12 kg pada saat normal adalah Rp.95.000,-- ternyata dengan susah payah kami mendapat gas di jaman 'susah' dikenai harga Rp.130.000,-- Alasannya pasokan dari Balikpapan terhambat, hu ...hu... jadi kepingin ke Balikpapan memborong langsung di sana ... :)
BBM sangat berpengaruh dengan harga-harga barang lainnya. Kenaikan harga BBM dan kelangkaannya, otomatis bisa mendongkrak harga-harga barang lainnya. Duh, bener deh... ibu rumah tangga sebagai manajer keuangan bertambah pusing jadinya. Masak, mau balik pakai kayu bakar lagi, lagian kayu juga semakin susah didapat lho....
Tuesday, January 31, 2012
Si Bungsu Sakit
Hemmm, lama tidak mencoret jejak di blog ini. Percayalah profesi sebagai ibu rumah tangga tanpa bantuan keluarga dan asisten adalah pekerjaan terkompleks sedunia dan menyita waktu sehingga cita-cita menulis rutin setiap hari sedikit terabaikan.
Kejadian penting minggu ini adalah anak bungsuku masuk rumah sakit (rawat inap) selama 4 hari. Berawal dari demam ringan selama dua hari, di hari ketiga sampai kelima panasnya kok tambah susah turun dan mulai keluar batuk-batuk. Semua gejala masih kutangani sendiri di rumah, karena sudah sekitar dua tahun kami jarang ke dokter untuk menangani sakitnya anak-anak, toh biasanya sembuh dengan obat yang sewajarnya. Minggu kemarin cukup berat bagiku, sementara bagi keluarga lain mungkin sesuatu yang menyenangkan karena ada libur weekend yang panjang karena ada tahun baru imlek. Suamiku dan rekan sekantornya memanfaatkan libur tiga hari dengan rekreasi keluar kota, anak keduaku ikut kegiatan outbonding dengan teman-teman satu sekolah. Di luar dugaan, sakit anak bungsuku tambah mengkhawatirkan. Setiap malam aku begadang menjaga dia yang gelisah turunnya, kasihan melihat bibirnya yang kering terkelupas dan detak napasnya yang nampak pendek-pendek seperti banyak lendir yang susah dikeluarkan.
Seiring dengan habisnya obat penurun panas, Sabtu pagi itu kuputuskan kubawa anak bungsuku ke rumah sakit. Di rumah sakit (praktek kliniknya) terdekat, aku mendatangi dokter umum karena dokter anak hanya praktek setelah magrib. Oleh dokter umum yang menangani, anakku diharuskan rawat inap dengan diagnosa radang paru (pnemonia). Aku sudah menduga kalau dibawa ke rumah sakit pasti disuruh opname, sebenarnya membantu juga sih ... supaya panasnya tertangani dengan benar minimal lewat cairan infus. Yang jelas, yang kulakukan pertama adalah menelpon ayahnya agar segera pulang karena jelas aku bingung kalau menghadapi sendiri. Di hari pertama, segala treatment langsung dikenakan pada anakku, rontgen, ambil darah, obat-obatan, sampai harus diuap (nebulizer ?). Hebatnya si bungsu, tiap jarum suntik yang menusuk tubuhnya selalu dipandanginya tanpa menangis atau menjerit, saat jarum infus dan ambil darah berlangsung. Kecuali jeritan kecil saat disuntik di bawah kulit untuk tes alergi antibiotik yang memang sakit itu.
Hari pertama, si bungsu terkulai lemas di tempat tidur sambil memandangi infusnya dan sesekali minta lepaskan infusnya, tapi alhamdulillah panasnya sudah normal sejak pertama masuk rumah sakit. Seiring dengan nyamanya badan, nafsu makanya mulai timbul lagi. Pada dasarnya anak bungsuku ini memang tidak bermasalah dengan nafsu makannya, kecuali pada saat sakit. Hari kedua dan ketiga, perlakuan tetap sama, obat-obatan dan diuap. Sesak nafasnya berkurang, batuk kecil masih ada tapi suhu badan sudah normal. Hari ketiga (Senin, pas imlek) sebenanrya sudah ingin keluar rumah sakit, tapi apa daya dokter yang menangani keluar kota jadi harus menunggu beliau esok harinya.
Hari keempat, lewat tengah hari setelah bertanya kepada para perawat, akhirnya dokternya mengijinkan keluar dan dilanjutkan dengan rawat jalan. Yang mengejutkan, kata dokternya melihat hasil rontgen dan kesimpulan yang disampaikan radiolog, anakku terkenan TB aktip, jadi harus menjalani pengobatan jangka panjang yaitu selama enam bulan tanpa terputus setiap harinya. Dengan kondisi cape dan stress, aku jgua sedang batuk-batuk, sambil menangani dua anak lainnya, kami sebagai orangtua 'pasrah' menerima vonis dokter. Yang pasti, aku sudah ingin sekali pulang, dan suamiku juga harus segera balik ke kota tempat bekerjanya hari itu juga setelah mendapat ijin sehari. Akhirnya menjelang magrib, bisa juga pulang ke rumah dengan membawa oleh-oleh obat TB untuk seminggu karena harus kontrol lagi. Obatnya berupa puyer berwarna merah dan sirup (kayaknya antibiotik). Malam itu hanya kuberi obat batuk meneruskan yang diberi di rumah sakit, rencananya mulai besok paginya baru dimulai obat puyer tersebut.
Paginya, Rabu, setelah selesai mengurus kedua anakku berangkat sekolah, aku mengurus si bungsu lagi dengan meminumnya bungkus pertama puyernya. Ih, pekat banget ...satu sendok teh penuh belum dicairkan dengan air, dan warnya merah pink orange campur-campur, anakku sampai susah dan menolak-nolak meminumnya, pasti rasanya juga nano-nano, tapi apa boleh buat demi kesembuhan. Tidak lama kemudian, dia tertidur kembali. Setelah aku 'sendiri', tiba-tiba aku merasa 'waras' dan segera duduk di depan komputer untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang penyakit TB. Ah, sungguh saat di rumah sakit tak terlintas untuk mencari informasi seperti ini. Dan, demikianlah, sederet informasi bertubi-tubi kubaca, semakin banyak kuterima semakin kuragukan vonis TB anakku.
Beberapa tanda-tanda TB apda anak yang kubaca :
Pertama, harus ada kontak lama dengan orang dewasa yang positip TB. Satu-satunya orang dewasa yang kontak lama adalah diriku, meskipun saat ini sedang batuk, batukku baru beberapa hari ini. Eh, aku jadi tersangka, jadi pengen di tes juga apakah aku penularnya. Rasanya sih tidak ...
Kedua, bermasalah dengan nafsu makan dan berat badan. Anak bungsuku ini sangat tidak bermasalah dengan nafsu makan dan tidak picky eater. Meskipun kenaikan berat badannya relatip sedikit, tapi masaih dalam batas yang wajar mengingat dia anak yang aktip. Pada saat sakit, memang tidak bernafsu makan, jangankan anak-anak orang dewasa juga demikian, bukan ?
Ketiga, apakah tiap malam berkeringat meski cuacanya tidak panas. Jawabannya tidak. Justru beberapa hari saat badannya panas di rumah aku sangat ingin dia berkeringat untuk menurunkan suhu badannya.
Batuk berkepanjangan ? Juga tidak, karena batuknya baru sekitar tiga harian. Meski pada anak, gejala TB tidak mesti batuk.
Setiap hasil rontgen, tampak berkabut pada paru-parunya, belum tentu TB. Pada anak, tes TB lainnya adalah tes mantoux. Nah, ini dia. Aku seperti baru membuka lipatan lemari yang tertutup selama di rumah sakit. Padahal aku sudah pernah mendengar tentang tes mantoux ini dari informasi-informasi di internet, dan juga sekitar delapan tahun yang lalu anak sulungku juga pernah di tes mantoux. Waktu itu gejalanya batuknya lama tidak baik-baik, sudah dirontgen akhirnya dites mantoux. Yah, akhirnya ku bismillah, mengambil langkah mencari second opinion dan minta di tes mantoux dahulu. Karena tidak banyak mengenal dokter, akhirnya kupilih dokter spesialis paru, berkonsultasi apakah hanya dengan hasil rontgen seorang anak bisa dikatakan positip terkena TB. Kata beliau, dari hasil rontgen memang mengarah ke situ, tetapi kita jalani dulu tes mantouxnya. Hmmm, hmmmm, hmmmm..
Kamis pagi, si bungsu disuntuik tes mantoux. Tidak seperti si sulung yang dites mantoux dulu aku bersandar penuh dengan kata dokter, karena minim informasi. Pada si bungsu, setelah disuntik, dengan perasaan sedikit parno dan pasrah, sering kuamati sendiri di tempat suntikannya, timbul benjolan kah, berapa besar benjolannya, bagaimana setelah 24 atau 48 jam nanti ? Sampailah di hari Sabtu, dan terlewati sudah 48 jam. Tidak ada tanda-tanda benjolan (indurasi) di tempat suntikannya. Jadwal kembali ke dokter, dan sesuai yang kami sangka, anakku negatip TB. Alhamdulillah.
Bukan menolak pengobatan, tetapi karena obat ini jangka panjang dan konon akan berpengaruh pada fungsi hati, alangkah baiknya diagnosa ditegakkan benar-benar jangan sampai salah. Benar kalimat yang disampaikan mbak Agnes (seorang sahabat maya yang juga dokter), be smart patients be smart parents. Anak adalah amanah, tanggungjawab orangtua mengurus dan mendidiknya. Orangtua tridak bisa memilih seperti apa anak yang dilahirkan, tetapi kita dibekali akal pikiran untuk bisa memilih cara terbaik merawat dan membimbingnya.
Kejadian penting minggu ini adalah anak bungsuku masuk rumah sakit (rawat inap) selama 4 hari. Berawal dari demam ringan selama dua hari, di hari ketiga sampai kelima panasnya kok tambah susah turun dan mulai keluar batuk-batuk. Semua gejala masih kutangani sendiri di rumah, karena sudah sekitar dua tahun kami jarang ke dokter untuk menangani sakitnya anak-anak, toh biasanya sembuh dengan obat yang sewajarnya. Minggu kemarin cukup berat bagiku, sementara bagi keluarga lain mungkin sesuatu yang menyenangkan karena ada libur weekend yang panjang karena ada tahun baru imlek. Suamiku dan rekan sekantornya memanfaatkan libur tiga hari dengan rekreasi keluar kota, anak keduaku ikut kegiatan outbonding dengan teman-teman satu sekolah. Di luar dugaan, sakit anak bungsuku tambah mengkhawatirkan. Setiap malam aku begadang menjaga dia yang gelisah turunnya, kasihan melihat bibirnya yang kering terkelupas dan detak napasnya yang nampak pendek-pendek seperti banyak lendir yang susah dikeluarkan.
Seiring dengan habisnya obat penurun panas, Sabtu pagi itu kuputuskan kubawa anak bungsuku ke rumah sakit. Di rumah sakit (praktek kliniknya) terdekat, aku mendatangi dokter umum karena dokter anak hanya praktek setelah magrib. Oleh dokter umum yang menangani, anakku diharuskan rawat inap dengan diagnosa radang paru (pnemonia). Aku sudah menduga kalau dibawa ke rumah sakit pasti disuruh opname, sebenarnya membantu juga sih ... supaya panasnya tertangani dengan benar minimal lewat cairan infus. Yang jelas, yang kulakukan pertama adalah menelpon ayahnya agar segera pulang karena jelas aku bingung kalau menghadapi sendiri. Di hari pertama, segala treatment langsung dikenakan pada anakku, rontgen, ambil darah, obat-obatan, sampai harus diuap (nebulizer ?). Hebatnya si bungsu, tiap jarum suntik yang menusuk tubuhnya selalu dipandanginya tanpa menangis atau menjerit, saat jarum infus dan ambil darah berlangsung. Kecuali jeritan kecil saat disuntik di bawah kulit untuk tes alergi antibiotik yang memang sakit itu.
Hari pertama, si bungsu terkulai lemas di tempat tidur sambil memandangi infusnya dan sesekali minta lepaskan infusnya, tapi alhamdulillah panasnya sudah normal sejak pertama masuk rumah sakit. Seiring dengan nyamanya badan, nafsu makanya mulai timbul lagi. Pada dasarnya anak bungsuku ini memang tidak bermasalah dengan nafsu makannya, kecuali pada saat sakit. Hari kedua dan ketiga, perlakuan tetap sama, obat-obatan dan diuap. Sesak nafasnya berkurang, batuk kecil masih ada tapi suhu badan sudah normal. Hari ketiga (Senin, pas imlek) sebenanrya sudah ingin keluar rumah sakit, tapi apa daya dokter yang menangani keluar kota jadi harus menunggu beliau esok harinya.
Hari keempat, lewat tengah hari setelah bertanya kepada para perawat, akhirnya dokternya mengijinkan keluar dan dilanjutkan dengan rawat jalan. Yang mengejutkan, kata dokternya melihat hasil rontgen dan kesimpulan yang disampaikan radiolog, anakku terkenan TB aktip, jadi harus menjalani pengobatan jangka panjang yaitu selama enam bulan tanpa terputus setiap harinya. Dengan kondisi cape dan stress, aku jgua sedang batuk-batuk, sambil menangani dua anak lainnya, kami sebagai orangtua 'pasrah' menerima vonis dokter. Yang pasti, aku sudah ingin sekali pulang, dan suamiku juga harus segera balik ke kota tempat bekerjanya hari itu juga setelah mendapat ijin sehari. Akhirnya menjelang magrib, bisa juga pulang ke rumah dengan membawa oleh-oleh obat TB untuk seminggu karena harus kontrol lagi. Obatnya berupa puyer berwarna merah dan sirup (kayaknya antibiotik). Malam itu hanya kuberi obat batuk meneruskan yang diberi di rumah sakit, rencananya mulai besok paginya baru dimulai obat puyer tersebut.
Paginya, Rabu, setelah selesai mengurus kedua anakku berangkat sekolah, aku mengurus si bungsu lagi dengan meminumnya bungkus pertama puyernya. Ih, pekat banget ...satu sendok teh penuh belum dicairkan dengan air, dan warnya merah pink orange campur-campur, anakku sampai susah dan menolak-nolak meminumnya, pasti rasanya juga nano-nano, tapi apa boleh buat demi kesembuhan. Tidak lama kemudian, dia tertidur kembali. Setelah aku 'sendiri', tiba-tiba aku merasa 'waras' dan segera duduk di depan komputer untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang penyakit TB. Ah, sungguh saat di rumah sakit tak terlintas untuk mencari informasi seperti ini. Dan, demikianlah, sederet informasi bertubi-tubi kubaca, semakin banyak kuterima semakin kuragukan vonis TB anakku.
Beberapa tanda-tanda TB apda anak yang kubaca :
Pertama, harus ada kontak lama dengan orang dewasa yang positip TB. Satu-satunya orang dewasa yang kontak lama adalah diriku, meskipun saat ini sedang batuk, batukku baru beberapa hari ini. Eh, aku jadi tersangka, jadi pengen di tes juga apakah aku penularnya. Rasanya sih tidak ...
Kedua, bermasalah dengan nafsu makan dan berat badan. Anak bungsuku ini sangat tidak bermasalah dengan nafsu makan dan tidak picky eater. Meskipun kenaikan berat badannya relatip sedikit, tapi masaih dalam batas yang wajar mengingat dia anak yang aktip. Pada saat sakit, memang tidak bernafsu makan, jangankan anak-anak orang dewasa juga demikian, bukan ?
Ketiga, apakah tiap malam berkeringat meski cuacanya tidak panas. Jawabannya tidak. Justru beberapa hari saat badannya panas di rumah aku sangat ingin dia berkeringat untuk menurunkan suhu badannya.
Batuk berkepanjangan ? Juga tidak, karena batuknya baru sekitar tiga harian. Meski pada anak, gejala TB tidak mesti batuk.
Setiap hasil rontgen, tampak berkabut pada paru-parunya, belum tentu TB. Pada anak, tes TB lainnya adalah tes mantoux. Nah, ini dia. Aku seperti baru membuka lipatan lemari yang tertutup selama di rumah sakit. Padahal aku sudah pernah mendengar tentang tes mantoux ini dari informasi-informasi di internet, dan juga sekitar delapan tahun yang lalu anak sulungku juga pernah di tes mantoux. Waktu itu gejalanya batuknya lama tidak baik-baik, sudah dirontgen akhirnya dites mantoux. Yah, akhirnya ku bismillah, mengambil langkah mencari second opinion dan minta di tes mantoux dahulu. Karena tidak banyak mengenal dokter, akhirnya kupilih dokter spesialis paru, berkonsultasi apakah hanya dengan hasil rontgen seorang anak bisa dikatakan positip terkena TB. Kata beliau, dari hasil rontgen memang mengarah ke situ, tetapi kita jalani dulu tes mantouxnya. Hmmm, hmmmm, hmmmm..
Kamis pagi, si bungsu disuntuik tes mantoux. Tidak seperti si sulung yang dites mantoux dulu aku bersandar penuh dengan kata dokter, karena minim informasi. Pada si bungsu, setelah disuntik, dengan perasaan sedikit parno dan pasrah, sering kuamati sendiri di tempat suntikannya, timbul benjolan kah, berapa besar benjolannya, bagaimana setelah 24 atau 48 jam nanti ? Sampailah di hari Sabtu, dan terlewati sudah 48 jam. Tidak ada tanda-tanda benjolan (indurasi) di tempat suntikannya. Jadwal kembali ke dokter, dan sesuai yang kami sangka, anakku negatip TB. Alhamdulillah.
Bukan menolak pengobatan, tetapi karena obat ini jangka panjang dan konon akan berpengaruh pada fungsi hati, alangkah baiknya diagnosa ditegakkan benar-benar jangan sampai salah. Benar kalimat yang disampaikan mbak Agnes (seorang sahabat maya yang juga dokter), be smart patients be smart parents. Anak adalah amanah, tanggungjawab orangtua mengurus dan mendidiknya. Orangtua tridak bisa memilih seperti apa anak yang dilahirkan, tetapi kita dibekali akal pikiran untuk bisa memilih cara terbaik merawat dan membimbingnya.
Sunday, January 1, 2012
01 Januari 2012
Malam tahun baru tidak ada yang spesial. Bagiku seperti malam-malam sebelumnya, tak perlu ikut heboh turun ke jalan atau ke pusat-pusat persayaan malam pergantian akhir tahun. Mubazir atau banyak sekedar hura-hura tanpa memberi manfaat. Padahal hanya untuk pergantian kalender saja, berapa biaya terbuang sia-sia. Meski banyak pula yang melakukan kegiatan positp yaitu perenungan atau muhasabah, terutama melihat jejak kehidupan kita setahun terakhir dan meneruskan langkah ke hari berikutnya dengan harapan-harapan dan action yang nyata tentunya.
Alhamdulillah, ini musim hujan, dan seperti malam-malam sebelumnya, semalam sejak sekitar pukul 22.00 hujan deras mengguyur Banjarmasin sampai lewat tengah malam. Tapi meski hujan, tetap masih ada yang memainkan kembang api saat waktu memasuki tanggal 01 Januari 2012. Oh, aku tidak berada di pusat perayaan tahun baru. Hanya di rumah, tepatnya sudah di kamar tidur, anak-anak sudah lelap, tapi di komplek kami ada yang meluncurkan kembang api sehingga suaranya terdengar memecah sunyinya komplek bercampur suara hujan. Anak-anakku sempat merengek, siang harinya, minta dibelikan terompet. Tanpa dibelikan terompet, kami belikan sedotan untuk dibuat alat tiup seperti terompet, hehe.... it works.
Siang hari sebelumnya (tanggal 31 Desember 2011) kami jalan sekeluarga. Hanya sekedar jalan-jalan, menemani suami ke bengkel kemudian mampir di sebuah tempat makan. Karena masih siang menjelang sore, tempat makan tersebut masih relatip kosong. Kami prediksi malam harinya pasti penuh sesak. Nah, bersebelahan dengan meja makan kami, tampak sekumpulan anak muda sedang makan bersama. Meja yang disediakan cukup panjang, kira-kira ada 20-an orang yang mengitari meja itu. Aku tidak tahu darimana mereka, hyanya mengamati bahwa yang wanita seluruhnya pake kerudung, dan yang pria seluruhnya rambutnya cepak. Usia sekitar awal 20-an, masing-masing aktip pegang smart phone berbagai model. Sekelompok-sekelompok kecil ada yang pulang duluan, tapi masih banyak yang tersisa. Pada saat pamitan keluar, mereka bersalaman beda dari yang biasa kulihat. Hemmm...mungkin itu ciri kelompok mereka ya. Salaman dengan jari-jari seperti orang mau panco itu lho ...
Siang tadi (01 Januari 2012), kami menghadiri undangan pernikahan anak seorang teman suamiku. Anaknya teman kami ini seorang wanita, masih kuliah, demikian pula suaminya sang mempelai pria, juga masih kuliah. Hebat ya, mereka berani menikah di usia relatip muda, kutaksir baru awal 20-an, tapi didukung penuh oleh keluarganya. Semoga berkah lah...
Harapan yang ditorehkan di tahun ini, sama seperti hari-hari kemarin. Semoga kami senantiasa sehat, bersyukur atas nikmat iman dan berharap selalu diberi petunjuk ke jalan yang lurus. Bagiku, inginnya segera berkumpul satu kota dengan suami, sehingga menjalani rumah tangga ini lebih saling menguatkan dan mengisi satu sama lain. Kalau bicara keluhan dan kekurangan mungkin tidak ada habis-habisnya, benarlah pendapat seorang teman yaitu daripada mengeluh, seringlah datang ke UGD suatu Rumah Sakit, di sana banyak kejadian yang yang akan meningkatkan rasa syukur kita. Kalau Tuhan memberi ujian hidup seperti ini, pasti Dia sudah tahu kemampuan kita. Semangat...
![]() |
| Gambar dari Google Image |
Alhamdulillah, ini musim hujan, dan seperti malam-malam sebelumnya, semalam sejak sekitar pukul 22.00 hujan deras mengguyur Banjarmasin sampai lewat tengah malam. Tapi meski hujan, tetap masih ada yang memainkan kembang api saat waktu memasuki tanggal 01 Januari 2012. Oh, aku tidak berada di pusat perayaan tahun baru. Hanya di rumah, tepatnya sudah di kamar tidur, anak-anak sudah lelap, tapi di komplek kami ada yang meluncurkan kembang api sehingga suaranya terdengar memecah sunyinya komplek bercampur suara hujan. Anak-anakku sempat merengek, siang harinya, minta dibelikan terompet. Tanpa dibelikan terompet, kami belikan sedotan untuk dibuat alat tiup seperti terompet, hehe.... it works.
Siang hari sebelumnya (tanggal 31 Desember 2011) kami jalan sekeluarga. Hanya sekedar jalan-jalan, menemani suami ke bengkel kemudian mampir di sebuah tempat makan. Karena masih siang menjelang sore, tempat makan tersebut masih relatip kosong. Kami prediksi malam harinya pasti penuh sesak. Nah, bersebelahan dengan meja makan kami, tampak sekumpulan anak muda sedang makan bersama. Meja yang disediakan cukup panjang, kira-kira ada 20-an orang yang mengitari meja itu. Aku tidak tahu darimana mereka, hyanya mengamati bahwa yang wanita seluruhnya pake kerudung, dan yang pria seluruhnya rambutnya cepak. Usia sekitar awal 20-an, masing-masing aktip pegang smart phone berbagai model. Sekelompok-sekelompok kecil ada yang pulang duluan, tapi masih banyak yang tersisa. Pada saat pamitan keluar, mereka bersalaman beda dari yang biasa kulihat. Hemmm...mungkin itu ciri kelompok mereka ya. Salaman dengan jari-jari seperti orang mau panco itu lho ...
Siang tadi (01 Januari 2012), kami menghadiri undangan pernikahan anak seorang teman suamiku. Anaknya teman kami ini seorang wanita, masih kuliah, demikian pula suaminya sang mempelai pria, juga masih kuliah. Hebat ya, mereka berani menikah di usia relatip muda, kutaksir baru awal 20-an, tapi didukung penuh oleh keluarganya. Semoga berkah lah...
Harapan yang ditorehkan di tahun ini, sama seperti hari-hari kemarin. Semoga kami senantiasa sehat, bersyukur atas nikmat iman dan berharap selalu diberi petunjuk ke jalan yang lurus. Bagiku, inginnya segera berkumpul satu kota dengan suami, sehingga menjalani rumah tangga ini lebih saling menguatkan dan mengisi satu sama lain. Kalau bicara keluhan dan kekurangan mungkin tidak ada habis-habisnya, benarlah pendapat seorang teman yaitu daripada mengeluh, seringlah datang ke UGD suatu Rumah Sakit, di sana banyak kejadian yang yang akan meningkatkan rasa syukur kita. Kalau Tuhan memberi ujian hidup seperti ini, pasti Dia sudah tahu kemampuan kita. Semangat...
Friday, December 30, 2011
Sampah dan Pemulung
Tadi ada seorang teman menulis catatan tentang sampah, dalam rangka menjelang tahun baru biasanya di tempat-tempat perayaan banyak meninggalkan sampah. Aku jadi teringat yang kulihat seminggu yang lalu, ketika melalui jalan umum yang sering kami lewati. Benar, itu termasuk jalan besar dan jalan umum. Tapi di salah satu sisinya ada sebidang tanah teruka yang penuh dengan tumpukan sampah. Tidak tahu siapa pemicunya, tambha hari timbunan sampah tambah melebar. Dan bisa dipastikan bila ada yang menaruh tulisan 'Dilarang Membuang Sampah Di sini' pasti itu belakangan setelah sampah menumpuk di sana. Dan herannya, masih banyak jgua yang suka membuang sampah di sana, terutama sambil melemparnya dari sepeda motor saat melintasi jalan tersebut.
Saking melebarnya, hingga sedikit demi sedikit memakan badan jalan. Nah, aktivitas di tempat pembuangan sampah ini terjadi setiap malam, pada saat banyak pemulung kerja di sana. Sebenarnya, bagiku pemulung juga berjasa, karena mereka memunguti benda-benda yang sekiranya masih dapat digunakan atau didaur ulang dengan cara menjualnya kembali ke pengumpul. Masalah timbul, karena biasanya para pemulung ini untuk memilah-milah benda yang bisa dipulung, mereka 'harus' menyobek-nyobek plastik bungkusan sampah sehingga isinya terburai keluar. Diaduk-aduk, dilebar-lebarin biar dapat yang dicari, tetapi hasil membongkar-bongkar mereka melebar sampai ke sepertiga badan jalan. Belum lagi kalau mereka lagi nungging-nungging saat memulung dengan tanpa sadar bahwa mereka berdiri di jalan beraspla dimana kendaran ramai lalulalang.
Sebenarnya ini sudah lama terjadi dan berlangsung setiap hari di lokasi yang sama, yang membuat aku ingin cerita di sini adalah yang kulihat seminggu yang lalu itu. Saat itu kami pulang ke rumah dan melewati jalan tersebut. Seperti biasanya, antri melewatinya dengan kendaraaan dari arah berlawanan karena luapan sampah ke badan jalan. Saat menunggu giliran lewat itulah, kulihat seorang pemulung, seorang ibu dengan cekatan merobek-robek bungkusan sampah, menyisihkan yang tidak diperlukannya ke segala arah, dan mataku terpana dengan tangan beliau. Hebat euuyy, ternyata di pergelangan tangannya berjejer tumpukan rantai gelang yang kutaksir sekitar 5 cm-an. Hehe... banyak amat gelangnya ya, dilihat sekilas dari jenis dan warnanya kayaknya emas tuh, entahlah kalau bukan. Haha.., ngiri.... aku sendiri tak satupun gelang melingkar di tanganku. Andai saja bisa kufoto kejadian itu dan menzoom ke gelang-gelang heboh itu, ah.. jangan-jangan si ibu itu kabur duluan ya...
Saking melebarnya, hingga sedikit demi sedikit memakan badan jalan. Nah, aktivitas di tempat pembuangan sampah ini terjadi setiap malam, pada saat banyak pemulung kerja di sana. Sebenarnya, bagiku pemulung juga berjasa, karena mereka memunguti benda-benda yang sekiranya masih dapat digunakan atau didaur ulang dengan cara menjualnya kembali ke pengumpul. Masalah timbul, karena biasanya para pemulung ini untuk memilah-milah benda yang bisa dipulung, mereka 'harus' menyobek-nyobek plastik bungkusan sampah sehingga isinya terburai keluar. Diaduk-aduk, dilebar-lebarin biar dapat yang dicari, tetapi hasil membongkar-bongkar mereka melebar sampai ke sepertiga badan jalan. Belum lagi kalau mereka lagi nungging-nungging saat memulung dengan tanpa sadar bahwa mereka berdiri di jalan beraspla dimana kendaran ramai lalulalang.
Sebenarnya ini sudah lama terjadi dan berlangsung setiap hari di lokasi yang sama, yang membuat aku ingin cerita di sini adalah yang kulihat seminggu yang lalu itu. Saat itu kami pulang ke rumah dan melewati jalan tersebut. Seperti biasanya, antri melewatinya dengan kendaraaan dari arah berlawanan karena luapan sampah ke badan jalan. Saat menunggu giliran lewat itulah, kulihat seorang pemulung, seorang ibu dengan cekatan merobek-robek bungkusan sampah, menyisihkan yang tidak diperlukannya ke segala arah, dan mataku terpana dengan tangan beliau. Hebat euuyy, ternyata di pergelangan tangannya berjejer tumpukan rantai gelang yang kutaksir sekitar 5 cm-an. Hehe... banyak amat gelangnya ya, dilihat sekilas dari jenis dan warnanya kayaknya emas tuh, entahlah kalau bukan. Haha.., ngiri.... aku sendiri tak satupun gelang melingkar di tanganku. Andai saja bisa kufoto kejadian itu dan menzoom ke gelang-gelang heboh itu, ah.. jangan-jangan si ibu itu kabur duluan ya...
Koin Limaratusan
Aku belum bisa menjadi penulis yang rutin dan serius menulis di blog setiap saat. Masih susah, masih terus belajar, dan masih terus belajar mengatur waktu, maklum kesibukan sebagai ibu rumah tangga menyita waktu yang cukup banyak. Apalagi musim liburan begini, satu-satunya PC yang ada di rumah dikerubuti juga oleh anak-anak. Ingin menyempatkan diri pada malam hari, saat anak-anak tidur, eh.. keseringan pingin tidur juga karena cape.
Hanya ingin cerita sedikit, sudah lebih dari dua minggu yang lalu, aku sengaja berbelanja sedikit keperluan rumah tangga di sebuah minimarket. Selain memenuhi stock barang yang habis, juga berniat 'memecah' uang limapuluh ribuan. Maksudnya berharap kembalian adalah uang limaribuan kah, sepuluh ribuan kah, atau duapuluh ribuan dan seribuan. Apa daya, minimarket tersebut lagi kehabisan duit yang kuinginkan. Karena aku benar-benar tidak ada uang lain selain lima puluh ribuan, dan sang kasir tetap harus memberi kembalian, hehe... akhirnya aku diberi kembalian luar biasa dimana di antaranya adalah dua gulung uang lima ratusan yang dalam satu gulungnya bernilai Rp.12.500,- so dua gulung bernilai Rp.25.000,- (gulungannya asli dari BI)
Berhari-hari aku bingung bagaimana 'menghabiskan duapuluh lima ribu yang limaratusan ini ya. Ke tukang sayur keliling, kadang-kadang kubayar dengan lima ratusan sampai senilai tiga ribu sampai lima rribu, atau yang berujung-ujung lima ratus. Lama juga habisnya. Akhirnya hari ini, saat belanja dengan tukang roti keliling, total belanjaan keluargaku adalah Rp34.500.-- kubayar dengan selembar lima puluh ribu, tukangnya tidak punya uang kembalian. Aku cuma punya selembar duapuluhribuan. Akhirnya kubayar yang Rp.14.500,-- degnan uang koin lima ratusan. Hehe... tukang rotinya malah senang, ibarat dapat modal untuk kembalian di pelanggan lainnya. Aku juga lega, akhirnya terbuka juga dua gulungan koin lima ratusan itu meskipun belum habis seluruhnya.
Hanya ingin cerita sedikit, sudah lebih dari dua minggu yang lalu, aku sengaja berbelanja sedikit keperluan rumah tangga di sebuah minimarket. Selain memenuhi stock barang yang habis, juga berniat 'memecah' uang limapuluh ribuan. Maksudnya berharap kembalian adalah uang limaribuan kah, sepuluh ribuan kah, atau duapuluh ribuan dan seribuan. Apa daya, minimarket tersebut lagi kehabisan duit yang kuinginkan. Karena aku benar-benar tidak ada uang lain selain lima puluh ribuan, dan sang kasir tetap harus memberi kembalian, hehe... akhirnya aku diberi kembalian luar biasa dimana di antaranya adalah dua gulung uang lima ratusan yang dalam satu gulungnya bernilai Rp.12.500,- so dua gulung bernilai Rp.25.000,- (gulungannya asli dari BI)
Berhari-hari aku bingung bagaimana 'menghabiskan duapuluh lima ribu yang limaratusan ini ya. Ke tukang sayur keliling, kadang-kadang kubayar dengan lima ratusan sampai senilai tiga ribu sampai lima rribu, atau yang berujung-ujung lima ratus. Lama juga habisnya. Akhirnya hari ini, saat belanja dengan tukang roti keliling, total belanjaan keluargaku adalah Rp34.500.-- kubayar dengan selembar lima puluh ribu, tukangnya tidak punya uang kembalian. Aku cuma punya selembar duapuluhribuan. Akhirnya kubayar yang Rp.14.500,-- degnan uang koin lima ratusan. Hehe... tukang rotinya malah senang, ibarat dapat modal untuk kembalian di pelanggan lainnya. Aku juga lega, akhirnya terbuka juga dua gulungan koin lima ratusan itu meskipun belum habis seluruhnya.
Nilai KKM
Seminggu yang lalu, anak pertamaku menerima rapor hasil belajar semester ganjilnya. Ini rapor pertama sejak menjadi murid baru kelas VII SMP. Sesuatu yang baru pasti banyak cerita-cerita baru, sejak mendaftar hingga mengikuti kegiatan belajar mengajar anakku di sekolah. Nah, terakhir yang bikin aku terkejut adalah ketika kutanya berapa standar nilai KKM di sekolahnya. Kalau di SDnya dulu ada beberapa mata pelajaran yang KKMnya 75, ada yang 70, bahkan masih ada yang 60. Ternyata di SMPnya ini, mungkin karena termasuk SMP RSBI, untuk semua mata pelajaran KKMnya adalah 80. Luar biasa, tingginya. Bayangkan, satu level saja ada 300-an murid/anak didik, rasanya dengan jumlah mata pelajaran yang banyak, muatannya yang berat, sungguh hebat bisa mencapai nilai 80. Apakah mampu ke-300 anak didik tersebut mencapainya ?
Jaman ku sekolah dulu saja, nilai 80 itu sudah sangat hebat, padahal muatan pelajarannya belum seberat jaman sekarang. Sungguh, sebagai ibu baru untuk anak SMP, aku kaget membaca bahan pelajaran anakku. Satu mata pelajaran IPA saja terkandung tiga sub pelajaran yaitu Fisika, Biologi, dan Kimia, dan masing-masing memerlukan buku teks yang relatip tebal. Teringat ketika aku berusaha memahami 'satu' sub bab saja dalam biologi yaitu tentang Taksonomi, wah...banyaknya yang harus dibaca (hampir menyerupai bahan kuliah 'kali...) dan haruskah di pahami semua oleh anak kelas VII SMP ? Kemudian untuk IPS, terkandung pelajaran Sejarah, Geografi, dan Ekonomi.
Di salah satu statusnya, kawan FBku yang kebetulan seorang guru mengatakan telah selesai mengisi raport anak-anak, dan penekanan dengan kata-kata 'yang penting tercapai nilai KKM'. Baru, aku 'mengerti', ternyata untuk mencapai nilai KKM tersebut, ada juga peran guru membantu di sana. Jelas 'kan, bagaimana bisa ratusan anak satu level kelas dengan kemampuan berbeda-beda dapat mencapai KKM yang tinggi. Lebih kaget lagi ketika mendengar cerita bahwa di sekolah RSBI satunya lagi nilai KKM-nya 90, hah...?? Ini murni pencapaian prestasi belajar anak didik atau apa ya ..., seharusnya ada perbaikan pada sistem pendidikan di Indonesia. Banyak mata pelajaran 'sia-sia' karena hanya hapalan, apalagi menjelang ulangan/ujian, setelah itu lupa karena tidak terpakai atau dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Meski cukup puas melihat raport anakku, hati kecilku tetap bertanya-tanya ... hmmmm, pasti seluruh teman-teman selevelnya juga punya nilai rata-rata 80 'kan ... hebat juga sekolah ini. Kalau tidak salah, aku sempat melihat list-nya, hanya satu orang teman sekelas anakku yang di satu mata pelajarannya punya KKM 70 dan itu telah distabilo merah oleh gurunya. Duh, padahal jamanku dulu 70 itu termasuk bagus.
Sekolah di jaman sekarang menuntut orangtuanya ikut belajar dan mau terus memperbaharui pengetahuannya. Ilmu 'kan terus berkembang dan bahan pelajaran anak-anak sekarang, menurutku, luar biasa beratnya. Sudah jam pelajaran di kelas lama, ditambah les yang diadakan sekolah, plus kalau yang ikutan les-les atau bimbel di luar sekolah. Kasihan anak-anak.
Jaman ku sekolah dulu saja, nilai 80 itu sudah sangat hebat, padahal muatan pelajarannya belum seberat jaman sekarang. Sungguh, sebagai ibu baru untuk anak SMP, aku kaget membaca bahan pelajaran anakku. Satu mata pelajaran IPA saja terkandung tiga sub pelajaran yaitu Fisika, Biologi, dan Kimia, dan masing-masing memerlukan buku teks yang relatip tebal. Teringat ketika aku berusaha memahami 'satu' sub bab saja dalam biologi yaitu tentang Taksonomi, wah...banyaknya yang harus dibaca (hampir menyerupai bahan kuliah 'kali...) dan haruskah di pahami semua oleh anak kelas VII SMP ? Kemudian untuk IPS, terkandung pelajaran Sejarah, Geografi, dan Ekonomi.
Di salah satu statusnya, kawan FBku yang kebetulan seorang guru mengatakan telah selesai mengisi raport anak-anak, dan penekanan dengan kata-kata 'yang penting tercapai nilai KKM'. Baru, aku 'mengerti', ternyata untuk mencapai nilai KKM tersebut, ada juga peran guru membantu di sana. Jelas 'kan, bagaimana bisa ratusan anak satu level kelas dengan kemampuan berbeda-beda dapat mencapai KKM yang tinggi. Lebih kaget lagi ketika mendengar cerita bahwa di sekolah RSBI satunya lagi nilai KKM-nya 90, hah...?? Ini murni pencapaian prestasi belajar anak didik atau apa ya ..., seharusnya ada perbaikan pada sistem pendidikan di Indonesia. Banyak mata pelajaran 'sia-sia' karena hanya hapalan, apalagi menjelang ulangan/ujian, setelah itu lupa karena tidak terpakai atau dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Meski cukup puas melihat raport anakku, hati kecilku tetap bertanya-tanya ... hmmmm, pasti seluruh teman-teman selevelnya juga punya nilai rata-rata 80 'kan ... hebat juga sekolah ini. Kalau tidak salah, aku sempat melihat list-nya, hanya satu orang teman sekelas anakku yang di satu mata pelajarannya punya KKM 70 dan itu telah distabilo merah oleh gurunya. Duh, padahal jamanku dulu 70 itu termasuk bagus.
Sekolah di jaman sekarang menuntut orangtuanya ikut belajar dan mau terus memperbaharui pengetahuannya. Ilmu 'kan terus berkembang dan bahan pelajaran anak-anak sekarang, menurutku, luar biasa beratnya. Sudah jam pelajaran di kelas lama, ditambah les yang diadakan sekolah, plus kalau yang ikutan les-les atau bimbel di luar sekolah. Kasihan anak-anak.
Wednesday, December 21, 2011
Jejaring Sosial
Ramainya status bertaburan di facebook atau twit di twitter. Umumnya pada setuju bahwa apa yang tertulis sebagian besar adalah gambaran sang pemilik akun. Tapi ternyata ada juga beberapa sifat aslinya tersembunyi di balik kebijakan status-statusnya. Maksudnya setiap posting status, bernilai kebaikan, mengajak kebaikan, tetapi di dunia nyata dia tidak atau belum sebaik yang kita sangka. Tapi, hal itu menurutku lebih baik dalam artian dengan status positipnya itu sebenanrnya dia sedang berusaha meningkatkan kadar kebaikannya, daripada posting yang enggak-enggak dan mengganggu keamanan dan ketertiban.
Beberapa hari belakangan ini, banyak pelajaran yang bisa diambil, terutama dari pertemanan di FB. Ada satu teman pria yang dikenal sering membuat status keagamaan, hal-hal kebaikan, dan kadang-kadang dipanggil ustadz. Tiba-tiba selama beberapa hari akunnya kena hack, dan yang ngehack seperti biasa adalah online shop yang berjualan barang elektronik. Setelah akun dapat diperoleh oleh beliau kembali, beginilah penjelasannya. Tapi saya salut, beliau sebelumnya minta maaf pada teman-teman FBnya, karena beliau ternyata menanggapi chatting seseorang bernama wanita sehingga jebollah alamat email dan password.
Seorang teman lain, wanita sebutlah S, juga sering mengupdate status tentang hal kebaikan dan agama. Turut kena hack seseorang. Yang menghebohkan adalah sang hacker membuat status yang melukiskan percakapan atau chatting di inbox atas nama S dengan seorang pria. Padahal diketahui bahwa si S ini sudah bersuami, intinya teman ngobrol di inbox itu semacam PIL lah. Status sejenis itu berulang kali dengan rincian yang cukup panjang, Lepas benar tidaknya kisah itu, namanya juga akun kena hack, memberi pelajaran berarti buat kita supaya lebih berhati-hati menjaga tingkah laku dan sikap.
Seorang teman lagi, menuliskan status tentang kekesalan terhadap seorang teman FBnya. Konon teman FBnya ini sering posting status keagamaan, tapi ujung-ujungnya sering menyakitkan hati dan menyudutkan golongan-golongan tertentu. Jadilah oleh temanku diblokir sekalian, saking kesalnya katanya...
Beberapa teman FB secara jelas menulis status sedang melakukan penghapusan beberapa nama teman FB. Baik-baik ya mereka, sementara aku diam-diam begini cukup sering menghapus beberapa teman FB tanpa perlu memberi laporan di statusku. Oh, maafkan aku sekiranya dinilai bertindak jahat. Sesungguhnya, menurutku, teman-teman yang aku delete di pertemanan FB bukan karena aku tidak suka, toh di dunia nyata mereka tetap kuanggap teman bahkan banyak yang memang orang baik-baik. Alasanku menghapus pertemanan di FB antara lain :
a. aku kesulitan memantau siapa-siapa saja teman FBku, meski tidak terlalu banyak rasanya tidak nyaman kalau aku sama sekali buta tentang siapa dia
b. pemilik akun tidak aktip, sehingga bagiku hanya memenuhi list pertemanan tanpa arti sama sekali
c. kurang sejalan dengan pemikirannya, jadi tidak nyaman untuk saling berbagi
d. upload foto-foto tidak sopan atau dia berteman dan menyukai (like) dengan orang-orang yang gemar foto tidak sopan
e. statusnya menggambarkan kesombongan sehingga mengganggap remeh dan bodoh orang lain, suka berbantah-bantahan atau adu komentar atas sesuatu, susah menerima masukan orang lain
Begitulah kurang lebihnya pertemanan di dunia maya. Eh, ada lagi yang 'lucu' nih. Kalau di twitter cukup umum orang minta difolback, nah di FB ada juga yang minta di like back setelah ngelike status orang lain. Hehe...ada-ada saja. Jumlah follower, jumah teman FB, jumlah yang menyukai status kita, toh tidak menggambarkan tinggi rendahnya derajat seseorang. Marilah berbijak-bijak berteman di dunia maya, carilah teman yang tega menyeret dan membentuk kita menjadi lebih baik lagi, yang artinya kita mampu memungut hal-hal positip dari jejaring sosial tersebut.
Beberapa hari belakangan ini, banyak pelajaran yang bisa diambil, terutama dari pertemanan di FB. Ada satu teman pria yang dikenal sering membuat status keagamaan, hal-hal kebaikan, dan kadang-kadang dipanggil ustadz. Tiba-tiba selama beberapa hari akunnya kena hack, dan yang ngehack seperti biasa adalah online shop yang berjualan barang elektronik. Setelah akun dapat diperoleh oleh beliau kembali, beginilah penjelasannya. Tapi saya salut, beliau sebelumnya minta maaf pada teman-teman FBnya, karena beliau ternyata menanggapi chatting seseorang bernama wanita sehingga jebollah alamat email dan password.
Seorang teman lain, wanita sebutlah S, juga sering mengupdate status tentang hal kebaikan dan agama. Turut kena hack seseorang. Yang menghebohkan adalah sang hacker membuat status yang melukiskan percakapan atau chatting di inbox atas nama S dengan seorang pria. Padahal diketahui bahwa si S ini sudah bersuami, intinya teman ngobrol di inbox itu semacam PIL lah. Status sejenis itu berulang kali dengan rincian yang cukup panjang, Lepas benar tidaknya kisah itu, namanya juga akun kena hack, memberi pelajaran berarti buat kita supaya lebih berhati-hati menjaga tingkah laku dan sikap.
Seorang teman lagi, menuliskan status tentang kekesalan terhadap seorang teman FBnya. Konon teman FBnya ini sering posting status keagamaan, tapi ujung-ujungnya sering menyakitkan hati dan menyudutkan golongan-golongan tertentu. Jadilah oleh temanku diblokir sekalian, saking kesalnya katanya...
Beberapa teman FB secara jelas menulis status sedang melakukan penghapusan beberapa nama teman FB. Baik-baik ya mereka, sementara aku diam-diam begini cukup sering menghapus beberapa teman FB tanpa perlu memberi laporan di statusku. Oh, maafkan aku sekiranya dinilai bertindak jahat. Sesungguhnya, menurutku, teman-teman yang aku delete di pertemanan FB bukan karena aku tidak suka, toh di dunia nyata mereka tetap kuanggap teman bahkan banyak yang memang orang baik-baik. Alasanku menghapus pertemanan di FB antara lain :
a. aku kesulitan memantau siapa-siapa saja teman FBku, meski tidak terlalu banyak rasanya tidak nyaman kalau aku sama sekali buta tentang siapa dia
b. pemilik akun tidak aktip, sehingga bagiku hanya memenuhi list pertemanan tanpa arti sama sekali
c. kurang sejalan dengan pemikirannya, jadi tidak nyaman untuk saling berbagi
d. upload foto-foto tidak sopan atau dia berteman dan menyukai (like) dengan orang-orang yang gemar foto tidak sopan
e. statusnya menggambarkan kesombongan sehingga mengganggap remeh dan bodoh orang lain, suka berbantah-bantahan atau adu komentar atas sesuatu, susah menerima masukan orang lain
Begitulah kurang lebihnya pertemanan di dunia maya. Eh, ada lagi yang 'lucu' nih. Kalau di twitter cukup umum orang minta difolback, nah di FB ada juga yang minta di like back setelah ngelike status orang lain. Hehe...ada-ada saja. Jumlah follower, jumah teman FB, jumlah yang menyukai status kita, toh tidak menggambarkan tinggi rendahnya derajat seseorang. Marilah berbijak-bijak berteman di dunia maya, carilah teman yang tega menyeret dan membentuk kita menjadi lebih baik lagi, yang artinya kita mampu memungut hal-hal positip dari jejaring sosial tersebut.
Saturday, December 17, 2011
Pengalaman dengan Angkot
Di satu grup FB yang aku ikuti ada lomba menulis pengalaman dengan angkot, berhubung berita belakangan ini sering terjadi kejahatan dalam angkot. Jadi, ceritanya aku mau tulis juga beberapa pengalamanku dengan angkot, first dalam blog sendiri dulu.
Jaman SMA, karena jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh, sekitar 3 km, aku harus naik angkot setiap berangkat ke sekolah. Angkot di Balikpapan, jaman dulu disebut taksi, kayaknya baru-baru ini saja disebut angkot untuk membedakan dengan taksi yang berargo. Nah, asyiknya naik angkot di Balikpapan adalah hampir seluruh angkot suka menyetel lagu sepanjang perjalanan. Jadi setiap angkot punya ciri khas lagu sesuai minat supirnya. Kebalikannya, karena seringnya naik angkot tertentu, lama-lama kalau dengar suatu lagu jadi keinget dah pengalaman naik angkot SMA dahulu...haha....
Jaman kuliah dan sering bolak-balik Bogor - Jakarta, mengharuskan sering naik angkutan umum berbagai jenis, antara lain kereta api, bis antar kota, bis PATAS, mikrolet, metromini, bajaj, hingga bemo... (eh...ngomong-ngomong masih ada nggak sih bemo sekarang..?). Pengalaman kurang menyenangkan saat itu naik bis PATAS, biasa lah angkutan umum di Jakarta jarang yang lengang pasti penuh sesak, jarang dapat dudukan, sering juga berdiri himpit-himpitan. Nah, saat berhimpitan itu rupanya ada aksi pencopet di tas ku. Ketahuannya setelah aku turun di terminal dan memerlukan uang untuk melanjutkan angkot berikutnya. Ternyata tasku sudah sobek, disilet. Ada hasilnya juga tuh pencopet, meski Alhamdulillah yang bisa ditariknya cuma dompet uang recehannku, sementara dompet yang berisi kartu-kartu dan uang lembaran tidak terangkut. Hanya jadinya aku kesulitan uang receh, jadi harus memecah uang lembaran yang nilainya lebih besar dahulu, kalau tidak salah kubelikan malajah saat itu untuk mendapat kembalian recehan.
Yang ini termasuk kejadian lucu. Waktu aku sibuk test masuk kerja di salah satu Bank yang kebetulan ada di Banjarmasin. Aku bukan dari Banjarmasin meskipun ada keturunan banjar dari orangtua, sehingga belum mengerti sepenuhnya bahasa banjar. Aku menginap di tempat sepupu dan untuk menuju kantor Bank tersebut, aku naik bajaj. Karena orang baru, sepanjang jalan aku terus memperhatikan dan coba menghapal jalan yang dilewati serta berkonsentrasi dengan perkiraan test yang akan dihadapi. Tiba-tiba supir bajajnya bertanya, "Uangnya bangsul kah?" Hah, pikirku emang ada nama Bank yaitu Bank Sul ? Spontan kujawab, "Bukan, tapi Bank B**" (tujuanku saat itu). Bajaj itu menepi, kemudian sambil memesan minyak/bensin buat mesinnya supirnya ngomong lagi, "Duitnya ba angsul kah?" Oooohhhh, ba angsul artinya (perlu) kembalian kah, karena uang receh beliau mau dipakai buat beli bensin. Hahaha...baru ngerti maksudnya, lucu ya, emang ada nama Bank yaitu Bang Sul, ada juga Bang Zul...haha..., sejak saat itu bahasa banjarku mengalami kemajuan kok..
Pengalaman lebih baru, karena bukan di kota sendiri jadi harus naik angkot selama berada di Surabaya. Saat itu aku dan anak-anakku dan adik iparku dengan seorang anaknya. Kami di Surabaya untuk pengobatan anakku sehingga hampir sebagian besar pikiranku hanya tentang seorang anakku itu, atau kurang perhatian dengan hal-hal lain. Setibanya di tempat tujuan, kami turun dan angkot pun berlalu. Beberapa saat kemudian baru adik iparku sadar bahwa dua buah hape yang diletakkan dalam tas sudah raib. Satu hape miliknya satu hape lainnya milik anaknya. Ternyata runut kejadian adalah, saat dalam angkot ada satu penumpang yang tiba-tiba merasa tidak enak badan dan sepertinya mau muntah, refleks adik iparku yang duduk di hadapan 'pemancing' itu memberi bantuan dengan mencarikan tisu dalam tas dan memberikannnya kepada orang 'sakit' itu. Begitulah. Saat ini, setelah nonton acara di Trans-7 yang menampilkan trik-trik pencopet di tempat umum, aku baru ngeh, bahwa itu salah satu strategi kawanan pencopet. Yah, kawanan, karena tidak mungkin dia bergerak sendiri.
Sebagai penutup, cerita lucu pengalaman dahulu kala di Bogor. Biasa kan, kenek kalo memancing atau manggil-manggil calon penumpang dengan meneriakkan nama daerah tujuannya, misal 'rambutan-rambutan.....senen-senen.....banteng-banteng......' pokoknya yang ditangkap telinga adalah ujung nama lokasi tujuannya. Nah, saat itu di Bogor sang kenek teriak-teriak 'kambing-kambing-kambing...' (maksudnya tujuan Bantar Kambing) ....eh, ada aja yang naik. Haha....ternyata dipanggil kambing pada naik tuh teman-temanku. Ini sekedar hiburan berdasarkan kisah nyata, btw masih adakah hal itu di Bogor sekarang ?
Jaman SMA, karena jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh, sekitar 3 km, aku harus naik angkot setiap berangkat ke sekolah. Angkot di Balikpapan, jaman dulu disebut taksi, kayaknya baru-baru ini saja disebut angkot untuk membedakan dengan taksi yang berargo. Nah, asyiknya naik angkot di Balikpapan adalah hampir seluruh angkot suka menyetel lagu sepanjang perjalanan. Jadi setiap angkot punya ciri khas lagu sesuai minat supirnya. Kebalikannya, karena seringnya naik angkot tertentu, lama-lama kalau dengar suatu lagu jadi keinget dah pengalaman naik angkot SMA dahulu...haha....
Jaman kuliah dan sering bolak-balik Bogor - Jakarta, mengharuskan sering naik angkutan umum berbagai jenis, antara lain kereta api, bis antar kota, bis PATAS, mikrolet, metromini, bajaj, hingga bemo... (eh...ngomong-ngomong masih ada nggak sih bemo sekarang..?). Pengalaman kurang menyenangkan saat itu naik bis PATAS, biasa lah angkutan umum di Jakarta jarang yang lengang pasti penuh sesak, jarang dapat dudukan, sering juga berdiri himpit-himpitan. Nah, saat berhimpitan itu rupanya ada aksi pencopet di tas ku. Ketahuannya setelah aku turun di terminal dan memerlukan uang untuk melanjutkan angkot berikutnya. Ternyata tasku sudah sobek, disilet. Ada hasilnya juga tuh pencopet, meski Alhamdulillah yang bisa ditariknya cuma dompet uang recehannku, sementara dompet yang berisi kartu-kartu dan uang lembaran tidak terangkut. Hanya jadinya aku kesulitan uang receh, jadi harus memecah uang lembaran yang nilainya lebih besar dahulu, kalau tidak salah kubelikan malajah saat itu untuk mendapat kembalian recehan.
Yang ini termasuk kejadian lucu. Waktu aku sibuk test masuk kerja di salah satu Bank yang kebetulan ada di Banjarmasin. Aku bukan dari Banjarmasin meskipun ada keturunan banjar dari orangtua, sehingga belum mengerti sepenuhnya bahasa banjar. Aku menginap di tempat sepupu dan untuk menuju kantor Bank tersebut, aku naik bajaj. Karena orang baru, sepanjang jalan aku terus memperhatikan dan coba menghapal jalan yang dilewati serta berkonsentrasi dengan perkiraan test yang akan dihadapi. Tiba-tiba supir bajajnya bertanya, "Uangnya bangsul kah?" Hah, pikirku emang ada nama Bank yaitu Bank Sul ? Spontan kujawab, "Bukan, tapi Bank B**" (tujuanku saat itu). Bajaj itu menepi, kemudian sambil memesan minyak/bensin buat mesinnya supirnya ngomong lagi, "Duitnya ba angsul kah?" Oooohhhh, ba angsul artinya (perlu) kembalian kah, karena uang receh beliau mau dipakai buat beli bensin. Hahaha...baru ngerti maksudnya, lucu ya, emang ada nama Bank yaitu Bang Sul, ada juga Bang Zul...haha..., sejak saat itu bahasa banjarku mengalami kemajuan kok..
Pengalaman lebih baru, karena bukan di kota sendiri jadi harus naik angkot selama berada di Surabaya. Saat itu aku dan anak-anakku dan adik iparku dengan seorang anaknya. Kami di Surabaya untuk pengobatan anakku sehingga hampir sebagian besar pikiranku hanya tentang seorang anakku itu, atau kurang perhatian dengan hal-hal lain. Setibanya di tempat tujuan, kami turun dan angkot pun berlalu. Beberapa saat kemudian baru adik iparku sadar bahwa dua buah hape yang diletakkan dalam tas sudah raib. Satu hape miliknya satu hape lainnya milik anaknya. Ternyata runut kejadian adalah, saat dalam angkot ada satu penumpang yang tiba-tiba merasa tidak enak badan dan sepertinya mau muntah, refleks adik iparku yang duduk di hadapan 'pemancing' itu memberi bantuan dengan mencarikan tisu dalam tas dan memberikannnya kepada orang 'sakit' itu. Begitulah. Saat ini, setelah nonton acara di Trans-7 yang menampilkan trik-trik pencopet di tempat umum, aku baru ngeh, bahwa itu salah satu strategi kawanan pencopet. Yah, kawanan, karena tidak mungkin dia bergerak sendiri.
Sebagai penutup, cerita lucu pengalaman dahulu kala di Bogor. Biasa kan, kenek kalo memancing atau manggil-manggil calon penumpang dengan meneriakkan nama daerah tujuannya, misal 'rambutan-rambutan.....senen-senen.....banteng-banteng......' pokoknya yang ditangkap telinga adalah ujung nama lokasi tujuannya. Nah, saat itu di Bogor sang kenek teriak-teriak 'kambing-kambing-kambing...' (maksudnya tujuan Bantar Kambing) ....eh, ada aja yang naik. Haha....ternyata dipanggil kambing pada naik tuh teman-temanku. Ini sekedar hiburan berdasarkan kisah nyata, btw masih adakah hal itu di Bogor sekarang ?
Tuesday, December 13, 2011
Cuma Foto
Bingung mau nulis apa...jadi naruh gambar dulu saja, biar keiket maknanya. Ini foto-foto yang kusuka...
Kisah dibalik gambar :
Durian itu dibeli oleh suamiku dari suatu daerah di Kalimantan Tengah. Hitung-hitung murah juga nggak sih, sekarung harganya Rp.50.000,- saja, isinya sekitar 15 buah, langsung mungut di bawah pohon durennya. Rasanya manis meski daging buahnya relatip tipis. Karena relatip terlalu banyak sementara bukan penikmat duren yang maniak, sebagian masih ada di simpan dalam wadah di kulkas (sudah dikeluarkan dari kulitnya). Ternyata dalam keadaan dingin dari kulkas lebih nikmat lagi ...hehe..
Si udang ini hanya seekor dari sekawanannya yang berbobot sekitar r seperempat kilogram. Dibeli dari tukang sayur keliling. Adanya dan tersisa cuma segitu, dibeli kemudian disiangi, eh...kok ada yang yang lain sendiri ekornya. Asli cuma satu ekor yang begini. Jadi sebelum diolah jadi makanan, mejeng dulu deh di depan kamera. Cakep ya, warna pelangi di ujung ekornya itu...
Ini rumah cakep dari HGTV Dream Home, benar-benar rumah impian termasuk mobilnya juga...Aamiin...
| Durian Kalteng |
| Ekor udang pelangi |
Durian itu dibeli oleh suamiku dari suatu daerah di Kalimantan Tengah. Hitung-hitung murah juga nggak sih, sekarung harganya Rp.50.000,- saja, isinya sekitar 15 buah, langsung mungut di bawah pohon durennya. Rasanya manis meski daging buahnya relatip tipis. Karena relatip terlalu banyak sementara bukan penikmat duren yang maniak, sebagian masih ada di simpan dalam wadah di kulkas (sudah dikeluarkan dari kulitnya). Ternyata dalam keadaan dingin dari kulkas lebih nikmat lagi ...hehe..
Si udang ini hanya seekor dari sekawanannya yang berbobot sekitar r seperempat kilogram. Dibeli dari tukang sayur keliling. Adanya dan tersisa cuma segitu, dibeli kemudian disiangi, eh...kok ada yang yang lain sendiri ekornya. Asli cuma satu ekor yang begini. Jadi sebelum diolah jadi makanan, mejeng dulu deh di depan kamera. Cakep ya, warna pelangi di ujung ekornya itu...
Ini rumah cakep dari HGTV Dream Home, benar-benar rumah impian termasuk mobilnya juga...Aamiin...
Wednesday, December 7, 2011
Indonesia yang Kucinta
Bismillahirrahmaannirrahiim... Alhamdulillah diberi nikmat sehat dan waktu untuk menjenguk blog ini lagi. Kurang ideal memang karena belum bisa rutin setiap hari menulis di sini, apa boleh buat banyak kesibukan lain yang menyita waktu. Percayalah, sebagai kesibukan sebagai Manajer Keluarga, apalagi tanpa ART atau sanak keluarga yang membantu, sungguh jauh lebih berat dan komplek daripada manajer kantoran. Maunya mengetik setiap ada ide, tapi repot karena perlu menyalakan dan standby terus depan komputer, sementara sang komputer edisi lama alias cukup makan tempat dan kurang portable. Jangan ditanya betapa inginya punya sejenis komputer yang lebih portable biar saat malam hari, di kamar tidur pun bisa mengetik. Lirik-lirik sih sudah, tapi ada barang yang lebih utama dibeli terlebih dahulu daripada sebuah komputer. Yah, kemarin kami baru membeli sebuah mesin cuci, pengganti mesin cuci lama yang telah setia menemani hampir dua belas tahun. Selama di toko perlengkapan rumah tangga/barang elektronik, lirik-lirik ke laptop dan netbook. Hmmmm, benda-benda yang secara ukuran lebih kecil daripada mesin cuci itu harganya sampai 3 - 4 kali lipat harga mesin cuci. Ya sudahlah, mungkin lain waktu kami bisa memilikinya.
Apa yang ingin kuceritakan adalah terkait berita akhir-akhir ini. Sebelumnya aku sangat terkesan dengan acara Kick Andy dengan episodenya Indonesia Mengajar. Kupikir banyak yang sama kagumnya denganku. Anak-anak muda yang baru lulus sarjana (kalau sesuai kriteria adalah yang berusia maksimal 25 tahun), dengan prestasi akademik maupun prestasi bidang lainnya yang luar biasa, rela dan ikhlas menerjunkan diri sebagai pengajar di sekolah-sekolah di pelosok-pelosok negeri tercinta ini. Padahal dengan modal kecakapan yang hebat itu sebenarnya merkea bisa bekerja di bidang yang secara materi lebih memuaskan. Tapi di sinilah letak istimewanya program Indonesia Mengajar. Program dibuka untuk seluruh lulusan sarjana dengan beberapa kriteria, sehingga tentunya mereka yang mendaftar dan telah digembleng adalah yang benar-benar siap terjun sebagai pengajar muda, pengasah bibit-bibit unggul di pelosok yang secara umumnya lokasi penempatan adalah yang minim berbagai fasilitas. Ada yang ditempatkan di suatu daeraha yang untuk menempuhnya saja harus dengan kapal atau perahu berjam-jam, di daerah sulit air dan sulit bahan baku sayur-sayuran, daerah yang terisolir sehingga konukasi dengan daerah lain susah, penyesuaian-penyesuaian dengan kebiasaan setempat, dll. Kesannya kok mau ditempatkan di lokasi yang tidak nyaman tersebut, sementara peluang karir di kota-kota lebih menjanjikan. Bahkan ada yang relah meninggalkan karirnya yang cukup baik di luar negeri, hanya untuk mengabdi melalui program ini. Diriku saja mungkin belum sanggup seperti itu sekiranya dahulu telah ada program ini. Aku jadi ingat desa tempat diriku dan kawan-kawan KKN dulu. Suatu desa di Jawa Barat, diatas gunung, meski jauh masih dapat ditempuh lewat darat (jalan sudah bagus/beraspal), tetapi belum ada listrik. Eh, ternyata di abad 21 ini, masih ada beberapa desa di negeri ini yang belum tersentuh listrik juga, apalagi sinyal komunikasi.
Di sisi lain, ramainya kabar, beberapa PNS berusia muda terindikasi melakukan korupsi sehingga kekayaan mereka dinilai tidak wajar (milyaran rupiah). Berita ini masih terus dibahas dan entah bagaimana tindak lanjutnya, benar tidaknya. Sebagai orang awam, aku hanya berpikir 'nyaman'nya bekerja seperti itu, dengan usia masih muda dan masa kerja relatip masih pendek, sudah berhasil menumpuk kekayaan yang luar biasa. Sungguh kenikmatan dan keberkahan pekerjaan kita hanya bisa dinilai oleh hati, bagaimana perasaan hati kita atas apa yang kita perbuat. Orang yang jujur tentu rasa di hatinya berbeda dengan rasa hati dari perbuatan yang tidak jujur, ada kegelisahan yang menggelitik. Belum lagi keberkahan rezeki yang tentunya lebih dinilai olehNya. Betul jika dikatakan, bila hati kita sudah tidak bisa merasakan gelisah lagi saat melakukan dosa-dosa kecil, maka itu pertanda hati kita telah kotor atau bahkan telah menghitam dan mati, naudzubillah. Salah satu iklahn di televisi, kusimpulkan begini, perselingkuhan kecil di masa muda adalah biang korupsi di masa mendatang. Dosa-dosa kecil yang dibiarkan, menjadi suatu kebiasaan yang terlihat wajar untuk dilakukan. Padahal anak-anak muda ini lah pilar-pilar negara di masa mendatang. Bagaimana nasib negeri ini sekiranya banyak pilar-pilarnya yang ternyata keropos di dalamnya.
Sungguh dua contoh geliat anak-anak muda yang berbeda. Berharap bahwa akan lebih banyak anak-anak muda bersemangat seperti para sahabatnya di Indonesia Mengajar, berharap akan berkurang anak muda yang 'mabuk' harta dan jabatan dengan merugikan orang lain. Hmmm, sambil mengetik ini, di televisi disiarkan berita selebriti muda yang suka beli mobil-mobil mewah. Wahhh...jangan sampai negeri ini dipenuhi anak muda yang semakin konsumtip (jadi ingat kejadian desak-desakan rebutan promo Blakcberry murah beberapa saat yang lalu), sementara di sisi lain orang-orang miskin juga desak-desakan memperebutkan bahan pokok. Indonesia negara yang besar, semoga jiwa positipnya yang besar dan bukan kesenjangan sosialnya yang juga semakin besar. Aku masih cinta Indonesia.
Apa yang ingin kuceritakan adalah terkait berita akhir-akhir ini. Sebelumnya aku sangat terkesan dengan acara Kick Andy dengan episodenya Indonesia Mengajar. Kupikir banyak yang sama kagumnya denganku. Anak-anak muda yang baru lulus sarjana (kalau sesuai kriteria adalah yang berusia maksimal 25 tahun), dengan prestasi akademik maupun prestasi bidang lainnya yang luar biasa, rela dan ikhlas menerjunkan diri sebagai pengajar di sekolah-sekolah di pelosok-pelosok negeri tercinta ini. Padahal dengan modal kecakapan yang hebat itu sebenarnya merkea bisa bekerja di bidang yang secara materi lebih memuaskan. Tapi di sinilah letak istimewanya program Indonesia Mengajar. Program dibuka untuk seluruh lulusan sarjana dengan beberapa kriteria, sehingga tentunya mereka yang mendaftar dan telah digembleng adalah yang benar-benar siap terjun sebagai pengajar muda, pengasah bibit-bibit unggul di pelosok yang secara umumnya lokasi penempatan adalah yang minim berbagai fasilitas. Ada yang ditempatkan di suatu daeraha yang untuk menempuhnya saja harus dengan kapal atau perahu berjam-jam, di daerah sulit air dan sulit bahan baku sayur-sayuran, daerah yang terisolir sehingga konukasi dengan daerah lain susah, penyesuaian-penyesuaian dengan kebiasaan setempat, dll. Kesannya kok mau ditempatkan di lokasi yang tidak nyaman tersebut, sementara peluang karir di kota-kota lebih menjanjikan. Bahkan ada yang relah meninggalkan karirnya yang cukup baik di luar negeri, hanya untuk mengabdi melalui program ini. Diriku saja mungkin belum sanggup seperti itu sekiranya dahulu telah ada program ini. Aku jadi ingat desa tempat diriku dan kawan-kawan KKN dulu. Suatu desa di Jawa Barat, diatas gunung, meski jauh masih dapat ditempuh lewat darat (jalan sudah bagus/beraspal), tetapi belum ada listrik. Eh, ternyata di abad 21 ini, masih ada beberapa desa di negeri ini yang belum tersentuh listrik juga, apalagi sinyal komunikasi.
Di sisi lain, ramainya kabar, beberapa PNS berusia muda terindikasi melakukan korupsi sehingga kekayaan mereka dinilai tidak wajar (milyaran rupiah). Berita ini masih terus dibahas dan entah bagaimana tindak lanjutnya, benar tidaknya. Sebagai orang awam, aku hanya berpikir 'nyaman'nya bekerja seperti itu, dengan usia masih muda dan masa kerja relatip masih pendek, sudah berhasil menumpuk kekayaan yang luar biasa. Sungguh kenikmatan dan keberkahan pekerjaan kita hanya bisa dinilai oleh hati, bagaimana perasaan hati kita atas apa yang kita perbuat. Orang yang jujur tentu rasa di hatinya berbeda dengan rasa hati dari perbuatan yang tidak jujur, ada kegelisahan yang menggelitik. Belum lagi keberkahan rezeki yang tentunya lebih dinilai olehNya. Betul jika dikatakan, bila hati kita sudah tidak bisa merasakan gelisah lagi saat melakukan dosa-dosa kecil, maka itu pertanda hati kita telah kotor atau bahkan telah menghitam dan mati, naudzubillah. Salah satu iklahn di televisi, kusimpulkan begini, perselingkuhan kecil di masa muda adalah biang korupsi di masa mendatang. Dosa-dosa kecil yang dibiarkan, menjadi suatu kebiasaan yang terlihat wajar untuk dilakukan. Padahal anak-anak muda ini lah pilar-pilar negara di masa mendatang. Bagaimana nasib negeri ini sekiranya banyak pilar-pilarnya yang ternyata keropos di dalamnya.
Sungguh dua contoh geliat anak-anak muda yang berbeda. Berharap bahwa akan lebih banyak anak-anak muda bersemangat seperti para sahabatnya di Indonesia Mengajar, berharap akan berkurang anak muda yang 'mabuk' harta dan jabatan dengan merugikan orang lain. Hmmm, sambil mengetik ini, di televisi disiarkan berita selebriti muda yang suka beli mobil-mobil mewah. Wahhh...jangan sampai negeri ini dipenuhi anak muda yang semakin konsumtip (jadi ingat kejadian desak-desakan rebutan promo Blakcberry murah beberapa saat yang lalu), sementara di sisi lain orang-orang miskin juga desak-desakan memperebutkan bahan pokok. Indonesia negara yang besar, semoga jiwa positipnya yang besar dan bukan kesenjangan sosialnya yang juga semakin besar. Aku masih cinta Indonesia.
Thursday, December 1, 2011
Untuk Siapa Kita Bekerja
Dulu kala (hehe...serasa jadul amat), ada rekan sekantor pria yang baru menikah. Seharusnya dan biasanya pasangan yang baru menikah ‘kan masih kental mesra-mesranya, tapi rekan satu ini agak aneh. Beberapa kali mengeluh karena istrinya terlalu sering menelepon ke kantor, dan beberapa kali menceritakan ‘kekurangan’ pasangannya. Duluuuu..., kami hanya tertawa menanggapi, tetapi saat ini dengan pemahaman agama yang relatip nambah sedikit, aku menyesalkan perbuatannya. Seandainya aku berada di posisi sang istri, mungkin aku juga akan bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan suamiku di jam-jam kerjanya di kantor dan yang pasti aku juga akan sangat keberatan kalau aib pasangan (meskipun remeh dan nampak kecil) diumbar jadi bahan cerita di kantor.
Mungkin istrinya termasuk tipe pencemburu atau over perhatian kepada suami. Kalau aku sendiri, dengan jaman sms murah mudah saat ini, lebih banyak menggunakan sms daripada menelepon langsung, dikarenakan memaklumi jam-jam sibuk suami di kantor, kecuali dalam keadaan sangat mendesak. Bukankah sesuatu yang pantas disyukuri kita masih sering berkomunikasi dengan pasangan kita meskipun sama-sama sibuk, lebih baik sibuk dengan pasangan yang halal daripada curhat ke orang lain. Kesibukan kerja sebaiknya tidak mengabaikan orang-orang terkasih kita (keluarga) yang senantiasa sabar menunggu di rumah, yang juga perlu perhatian kita.
Kembali ke jaman dulu, ..hehe review kisahnya, aku pernah ‘ditegur’ oleh seorang pegawai senior. Saat itu aku belum menikah sehingga seluruh gajiku lebih banyak ditabung untuk keperluan sendiri. Rasanya senang saja melihat bila bukit tabungan itu meninggi. Dia menegur seperti ini “Duit juga tidak akan dibawa mati, Pik” ....Hmmm, betul juga sih, siapa yang menyangkal hal itu karena yang kita bawa mati hanya amal. Maksud beliau saat itu, secara kalimat adalah baik yaitu tidak mengagung-agungkan harta di dunia. Tapi tahukah saudara, maksud lainnya saat itu adalah untuk meminjam uang kepadaku...hehe...
Untuk siapa sebenarnya kita bekerja, untuk siapa kita bersusahpayah mencari rezeki dalam bentuk uang/gaji. Ketika bujangan, kita bebas menggunakannya untuk keperluan pribadi sendiri dan ketika telah berkeluarga, bertambah banyaklah lubang-lubang pengeluaran rumah tangga dan anak-anak. Semakin banyak dan bertumbuh anak-anak, semakin besar pula biaya yang dikeluarkan. Tidak pantas rasanya merindukan gundukan gaji betah di rekening seperti jaman bujangan dahulu. Baliklah ke diri sendiri, setelah menjalani kehidupan berumahtangga bertahun-tahun, apa tujuan kita atau seorang kepala keluarga bekerja. Bukankah kita punya tanggungjawab atas keluarga yang kita bina, istri dan anak-anak. Tanggungjawab bukan sekedar lahiriah semata, tetapi sebuah keluarga, tepatnya istri dan anak-anak di rumah, juga membutuhkan kasih sayang dan perhatian seorang suami/bapak. Gaji seorang suami/bapak adalah bentuk tanggungjawab lahir menafkahi keluarga, sedangkan perhatian (meskipun sedikit di sela-sela kesibukan kerja) adalah tanggungjawab memenuhi bafkah batiniah keluarga. Sayangi keluarga di rumah, karena mereka adalah alasan kita bekerja.
Sekedar penyegaran :
Seorang suami sedang membaca sebuah buku, dengan wajah yang sedih
Istri : mas, sedang apa?
Suami : sedang baca buku, dik
Istri : apa isi ceritanya, serius amat...
Suami : iya, endingnya menyedihkan
Istri : buku apa sih, mas?
Suami : ini nih, buku tabungan .........................:))
Hari AIDS tanggal 1 Desember
Hari ini tanggal 1 Desember ternyata adalah hari AIDS. Tadi dapat selebaran yang dibagikan oleh para mahasiswa yang relatip masih muda-muda, selebaran yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Propinsi dalam rangka hari AIDS tersebut. Tak lupa disematkan pada ujungnya pita merah putih nan mungil, dibagikan ke seluruh pengguna jalan yang melalui pertigaan itu.
Isi selebaran antara lain menjelaskan apa itu penyakit AIDS dan HIV, bagaimana cara penyebarannya, cara aman menghindarinya, dan himbauan untuk konseling bila seseorang menginginkan untuk mengetahui status HIVnya.
Yang ingin kugarisbawahi di sini adalah ketidaksetujuanku pada beberapa pernyataan dalam selebaran tersebut. Antara lain cara-cara berhubungan seksual dengan pasangan yang aman. Dan satu paragrap lagi yang memuat kalimat seperti ini :
SUAMI HEBAT adalah suami yang melindungi dirinya dari penyakit (pakai kondom kalau ‘jajan’) sehingga ia tidak akan menularkan penyakit kepada istri, anaknya dan orang lain.
Hmmm, dalam kalimat ini arahnya jelas ‘suami’ disini adalah positip penderita, tapi kok masih dimaklumi berhubungan dengan bukan istrinya (‘jajan’) dengan menyampaikan cara berhubungan yang aman dengan orang lain. Terlalu....
Sejak awal, sebagai tindakan pencegahan, sebagai orang yang beragama seharusnya kita sudah mengerti bahwa satu-satunya orang yang halal adalah pasangan kita. Jelas bahwa agama telah mengatur agar perilaku umatnya jauh dari perbuatan tidak baik. Berbagai penyebab penyebaran HIV AIDS yang menurutku benar-benar korban adalah seseorang yang mendapat transfusi darah dari pendonor yang terinfeksi dan anak yang dilahirkan oleh ibu penderita HIV AIDS . Sedangkan penyebab lainnya lebih merupakan akibat perbuatan yang kurang baik manusia itu sendiri yaitu pergaulan/hubungan seksual yang bebas dan penggunaan narkoba melalui jarum suntik. Jadi demi pencegahan lebih lanjut bukan dengan ‘menghalalkan’ hubungan suami istri dengan siapa saja asal menggunakan pengaman (kondom), tetapi lebih menekankan pemahaman gambaran buruknya akibat hubungan bebas tersebut, baik untuk kesehatan diri sendiri apalagi terhadap ajaran agama.
Terhadap penderita HIV AIDS, terutama anak-anak, seharusnya memang tidak dijauhi karena mereka perlu dukungan untuk menjalani hidup lebih baik. Mereka telah menggoreskan pelajaran yang seharusnya dapat kita sarikan dengan baik hikmahnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)




